Bank Dunia Beri Ramalan Kurang Oke untuk Ekonomi RI: PDB 3,7%

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
28 September 2021 11:26
Bank Dunia

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Dunia menurunkan proyeksi atas pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2021 dari 4,4% menjadi 3,7%.

Berdasarkan laporan Bank Dunia yang dikutip CNBC Indonesia Selasa (28/9/2021), penurunan proyeksi ini disebabkan oleh lonjakan kasus covid-19 yang terjadi sejak Juli 2021.

Lonjakan tersebut diketahui membuat pemerintah mengambil langkah pengetatan mobilitas, baik secara keseluruhan maupun berjenjang. Sehingga ekonomi yang tadinya mulai pulih, kembali tertahan.


Bank Dunia melihat persoalan ini tidak hanya dialami di Indonesia, namun hampir semua negara di Asia Timur dan Pasifik. Meskipun China diproyeksikan akan bertumbuh sebesar 8,5%, negara-negara lain di kawasan EAP diprediksi akan bertumbuh 2,5%, hampir 2 poin persentase lebih rendah daripada yang diperkirakan pada April 2021.

Angka tenaga kerja dan partisipasi tenaga kerja mengalami penurunan, dan sebanyak 24 juta penduduk tidak dapat lepas dari kemiskinan pada tahun 2021.

"Pemulihan ekonomi negara-negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik kini berubah," kata Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Manuela Ferro dalam keterangan tertulisnya.

"Walaupun pada tahun 2020 kawasan EAP berhasil mengendalikan COVID-19 ketika kawasan-kawasan lainnya di dunia sedang berjuang, peningkatan angka COVID-19 di tahun 2021 telah mengurangi prospek pertumbuhan untuk 2021. Namun demikian, kawasan ini muncul secara lebih kuat dari krisis sebelumnya dan dengan kebijakan yang tepat, dapat melakukannya kembali."

Kerusakan akibat melonjaknya kembali dan bertahannya COVID-19 kemungkinan akan menghambat pertumbuhan dan menambah kesenjangan selama jangka panjang, demikian temuan dalam Laporan ini. Kegagalan dari perusahaan-perusahaan yang seharusnya sehat menyebabkan hilangnya aset tak berwujud yang berharga, sedangkan perusahaan-perusahaan yang masih bertahan menunda investasi yang produktif.

Perusahaan-perusahaan yang lebih kecil mengalami dampak terparah.

Meskipun sebagian besar perusahaan menghadapi kesulitan, perusahaan-perusahaan yang lebih besar kemungkinan akan mengalami penurunan yang lebih kecil dalam penjualan mereka. Perusahaan-perusahaan ini kemungkinan besar mengadopsi teknologi canggih dan menerima dukungan dari pemerintah.

Rumah tangga juga mengalami kesulitan, khususnya rumah tangga miskin, di mana mereka memiliki kemungkinan lebih besar untuk kehilangan penghasilan, mengalami kerawanan pangan yang lebih besar, memiliki anak-anak yang tidak ikut serta dalam kegiatan pembelajaran, dan terpaksa menjual aset-aset terbatas yang mereka miliki.

Akibatnya, bertambahnya stunting, pengikisan modal manusia dan hilangnya aset-aset yang produktif akan menghambat penghasilan dari rumah tangga tersebut di masa depan. Meningkatnya kesenjangan antar perusahaan juga dapat meningkatkan kesenjangan antar pekerja.

"Percepatan vaksinasi dan pengujian untuk mengendalikan infeksi COVID-19 dapat membangkitkan kegiatan ekonomi di negara-negara yang sedang berjuang pada awal pertengahan pertama tahun 2022, dan menggandakan angka pertumbuhan pada tahun berikutnya," kata Ekonom Utama Asia Timur dan Pasifik Aaditya Mattoo.

"Tetapi dalam jangka panjang, hanya reformasi yang lebih mendalam dapat mencegah melambatnya pertumbuhan dan meningkatnya kesenjangan, suatu kombinasi yang memperburuk kawasan EAP yang belum pernah terjadi pada abad ini."

Laporan ini memperkirakan bahwa kebanyakan negara di kawasan EAP, termasuk Indonesia dan Filipina, dapat memvaksinasi lebih dari 60 persen penduduk mereka pada pertengahan pertama tahun 2022. Meskipun hal itu tidak menghilangkan terjadinya infeksi, vaksinasi dapat mengurangi angka kematian secara signifikan, sehingga kegiatan ekonomi dapat dilakukan lagi.

Akan tetapi, kawasan EAP perlu melakukan upaya serius dalam empat bidang yang menangani COVID yang berkepanjangan: mengatasi keraguan tentang vaksin dan keterbatasan kapasitas distribusi untuk mencegah terjadinya angka cakupan yang terus bertahan [plateauing coverage); meningkatkan pengujian, pelacakan dan isolasi untuk mengendalikan infeksi; meningkatkan produksi vaksin regional untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan impor; dan memperkuat sistem kesehatan untuk mengatasi berkepanjangannya penyakit ini. Bantuan internasional dibutuhkan untuk mendukung upaya nasional di seluruh bidang ini, khususnya di negara-negara dengan kapasitas yang terbatas.

Selain mengendalikan COVID-19, strategi yang komprehensif dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan dan memastikan adanya pertumbuhan yang inklusif. Laporan ini mengidentifikasi penyebaran teknologi yang dipercepat sebagai kemungkinan sisi positif dari krisis yang dapat mendorong produktivitas, mendemokratisasi pendidikan dan mentransformasi lembaga-lembaga negara.

Akan tetapi, reformasi yang saling melengkapi juga penting. Melengkapi perusahaan-perusahaan dengan keterampilan untuk penerapan teknologi dalam usaha mereka harus disertai dengan keterbukaan dalam perdagangan dan investasi, serta dengan kebijakan persaingan usaha yang memperkuat dorongan bagi perusahaan-perusahaan untuk mengadopsi teknologi baru. Implementasi reformasi yang sudah lama tertunda di bidang pendidikan untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan relevansi kurikulum dapat memastikan akses yang lebih luas ke manfaat teknologi pembelajaran baru.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

World Bank: RI Turun Peringkat Jadi 'Kelas Menengah Bawah'


(mij/mij)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading