Bank BJB, Terkuat di Kelasnya Menjaga Fungsi Intermediasi

News - Tri Putra & Arif Gunawan S, CNBC Indonesia
23 September 2021 17:10
bank bjb terpilih menjadi pemenang penghargaan “The Most Resilient Regional Bank” di ajang CNBC Indonesia Award 2021

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung terus membayangi kinerja berbagai industri, tak terkecuali industri perbankan. Sebagai lembaga keuangan yang memiliki peran intermediasi, kekuatan sistem perbankan menjadi kunci keberlangsungan bangsa.

Seperti yang sudah digadang-gadang, tahun 2021 ini merupakan momentum awal pemulihan ekonomi di mana vaksinasi mulai dijalankan dan pembukaan kembali ekonomi dilakukan secara bertahan. Bank-bank pun diharapkan bisa menyalurkan kreditnya untuk membantu pemulihan.

Namun di tengah pertumbuhan digit ganda Dana Pihak Ketiga (DPK), perbankan masih cenderung berhati-hati dalam penyaluran kreditnya karena memang risiko penurunan kualitas aset masih nyata, di tengah munculnya berbagai varian virus Covid-19 yang membuat pembukaan kembali ekonomi menjadi maju-mundur.


Di tengah situasi pelik tersebut, Bank Pembangunan Daerah (BPD) turut memainkan peran kunci karena aspek lokalitas yang dimilikinya sehingga mampu melakukan restrukturisasi kredit sedekat mungkin dengan pelaku usaha di penjuru Tanah Air.

Meski aset mereka memang masih jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan bank-bank BUMN maupun bank komersial swasta nasional, ketahanan BPD patut untuk diperhatikan mengingat perannya sebagai agen pendorong pembangunan ekonomi daerah.

Salah satu BPD yang menunjukkan daya tahan paling kuat di tengah krisis pandemi adalah PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (bank BJB). Daya tahan mereka terlihat dari sisi neraca, di mana aset per kuartal II tahun 2021 tumbuh 20% secara tahunan (year on year/yoy) atau di atas rata-rata industri yang hanya tumbuh single digit.

Poin Keunggulan bank bjb (ist)

BJBR juga menjadi BPD dengan catatan nilai aset terbesar, menembus Rp 150,4 triliun sampai dengan Juni tahun ini. Modal mereka juga menjadi yang terbesar di antara 26 Bank BPD, yakni sebesar Rp 13,8 triliun.

Hingga kuartal II tahun ini, modal inti (Core Equity Tier-1 Capital/CET-1) BJBR mencapai Rp 10 triliun. Ini merupakan yang tertinggi di antara bank BPD lain. Rasio kecukupan modal (CAR) BJBR juga di level 16,9% sampai Juni tahun ini, atau jauh di atas batas aman yang sebesar 8%.

Ekuitas BJBR juga tercatat mengalami pertumbuhan secara natural, menjadi yang tertinggi di antara perbankan daerah lainnya di mana modal BJBR melonjak 21,4% yoy pada kuartal II 2021 menjadi Rp 11 triliun.

Dengan kekuatan tersebut, bank BJB mampu menyalurkan kredit secara lebih leluasa, sehingga bisa memainkan peran utamanya dari sisi intermediasi. Hingga kuartal II, total penyaluran kredit mereka mencapai Rp 91,6 triliun atau naik 6,7% yoy.

Risiko Terkendali, Profitabilitas Terjaga

Pertumbuhan kredit bank BJB patut diapresias, mengingat industri perbankan Tanah Air sejak Oktober 2020 mencatatkan pertumbuhan negatif dalam hal penyaluran kredit selama 8 bulan beruntun. Artinya kredit yang tersalur menyusut di tengah peningkatan risiko selama pandemi.

Tatkala Bank BJB mendongkrak penyakuran kredit, kualitas aset ternayta masih terjaga. Rasio kredit macet (NPL) membaik. Pada kuartal II tahun 2021, NPL secara gross tercatat sebesar 1,34%. Sementara NPL rata-rata industri tercatat masih di atas 3%. Batas aman NPL adalah 5%.

Jika dibandingkan dengan BPD lain, maka BJBR menjadi BPD terbaik kedua dilihat dari rasio kredit macetnya. Hanya kalah dari BPD Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) yang mencetak NPL gross di bawah 1%.

Ciamiknya data NPL tidak lepas dari positioning BJBR menggarap sektor kredit konsumsi secara ekstra dari kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) sehingga cicilan kredit bisa langsung diamankan ketika pembayaran gaji. Ini tentu saja membantu menjaga NPL tetap rendah.

Kemudian apabila ditinjau dari segi profitabilitas, BJBR mampu mencatatkan pertumbuhan dari pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) sebesar 20% yoy pada kuartal kedua tahun ini. NII BJBR juga menjadi yang terbesar di kalangan BPD yaitu sebesar Rp 3,7 triliun. Laba bersih tercatat sebesar Rp 924,4 triliun, atau yang tertinggi di antara bank BPD lainnya.

Return on Equity (RoE) pun membaik dari 13,7% kuartal II tahun lalu menjadi 14,8% tahun ini, sementara Return on Asset (RoA) BJBR masih terjaga di kisaran 1,3%. Dengan kinerja yang positif dan meyakinkan tersebut, tidak heran harga saham perseroan di bursa saham melonjak 19% dalam 12 bulan atau setahun terakhir.

Dengan berbagai keunggulan tersebut, terutama dari sisi kinerja pertumbuhan aset, ekuitas, dan NPL yang terjaga rendah, BJBR terpilih menjadi pemenang penghargaan "The Most Resilient Regional Bank" di ajang CNBC Indonesia Award 2021, mengalahkan nominee di industri perbankan daerah. BJBR meraih skor 98 (dari 100).

CNBC Awards 2021

Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi CNBC Indonesia kepada pelaku usaha, dalam hal ini industri perbankan daerah, yang memiliki kinerja terbaik dari berbagai aspek, baik ketahanan modal, pertumbuhan dan kualitas aset, profitabilitas, hingga konsistensi fungsi intermediasi.

Untuk mencapai penilaian tersebut, Tim Riset CNBC Indonesia melakukan kajian riset dan analisis terhadap kinerja perbankan daerah yang memenuhi kriteria.Proses penilaian dilakukan pada Agustus-September, melalui riset kualitatif berbasis data sekunder dari publikasi resmi perseroan, Bank Indonesia dan OJK serta media monitoring terhadap 20 media utama nasional.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]




(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading