Internasional

Resmi! Covid Jadi Wabah Paling Mematikan, Gantikan Flu 1918

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
21 September 2021 09:05
Kasus Covid-19 meningkat di Amerika Serikat. (AP/Michael H. Lehman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penyakit Covid-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 atau virus corona resmi menjadi wabah paling mematikan dalam sejarah Amerika Serikat (AS). Ini jauh melampaui jumlah perkiraan kematian akibat pandemi influenza tahun 1918.

Data yang dikumpulkan oleh Universitas Johns Hopkins memaparkan kasus kematian akibat Covid di AS melampaui 675.000 per Senin (20/9/2021). Rata-rata meningkat lebih dari 1.900 kematian per hari.


Kematian naik seiring gelombang baru Covid-19 yang terjadi, terutama di wilayah Selatan AS yang enggan divaksin. Varian Delta yang menyebar cepat menjadi salah satu biang keladinya.

Saat pandemi influenza terjadi di 1918, tercatat 675.000 orang meninggal. Wabah terjadi di akhir Perang Dunia 1, 1918-1919.

Meski demikian, sejumlah pakar mengatakan penting untuk mempertimbangkan populasi ketika berbicara tentang wabah atau bencana. Selain itu, perbandingan langsung angka mentah untuk setiap pandemi tidak terkait keseluruhan konteks, mengingat kemajuan teknologi, medis, sosial dan budaya yang luas selama satu abad terakhir.

Misalnya, populasi AS pada tahun 1918 kurang dari sepertiga dari populasi saat ini dengan perkiraan 103 juta orang yang tinggal di Amerika sebelum tahun 1920-an. Kini, ada hampir 330 juta orang yang tinggal di AS.

Ini artinya flu 1918 membunuh sekitar 1 dari setiap 150 orang Amerika. Sementara Covid-19, menyebabkan kemarian 1 dari 500 orang sejauh ini.

Virus 1918 juga cenderung membunuh dengan cara yang berbeda dari Covid. Dengan Perang Dunia I, ada pergerakan besar-besaran pria di seluruh Amerika dan Eropa.

Virus corona juga bisa sangat parah bagi orang tua dan mereka yang memiliki komorbid. Sementara virus 1918 tidak biasa karena membunuh banyak orang dewasa muda.

Selain itu ada perbandingan besar pada teknologi. Pada flu 1918, belum ada vaksin. Juga tidak ada CDC atau departemen kesehatan masyarakat nasional.

Meski Administrasi Makanan dan Obat-obatan (FDA) ada tetapi baru terdiri dari sekelompok kecil orang. Selain itu, tidak ada antibiotik, unit perawatan intensif, ventilator atau cairan IV pada saat itu.

Para ilmuwan bahkan belum pernah melihat virus di bawah mikroskop. Mereka tidak memiliki teknologi dan mereka hampir tidak tahu apa-apa tentang virologi.

Ini ilmu yang baru lahir karena virus secara fisik lebih kecil di bawah mikroskop dan lebih sulit diidentifikasi daripada infeksi bakteri.

"Jelas kita memiliki keuntungan jauh lebih baik sekarang," ujar seorang pengamat kesehatan AS, Dr Paul Offitt.

"Namun masalahnya, ada yang tidak mau divaksinasi," tegasnya lagi.

Mengutip Worldometers, AS mencatat total 43 juta kasus Covid-19 dengan 693 ribu kematian, sejak pandemi. Kasus aktif sebanyak 9,7 juta dengan kondisi serius 24 ribu.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading