Jokowi Soal Kuliah-Karier BGS: Dari Teknik Nuklir Jadi Menkes

News - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
14 September 2021 17:18
Sambutan Presiden RI Jokowi pada Pertemuan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia, 13 Sept 2021. (Tangkapan Layar Youtube/Biro Setpres RI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan sambutan pada pertemuan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia yang ditayangkan di kanal Youtube Sekretariat Presiden, Selasa (14/9/2021). Dalam kesempatan itu, Jokowi bercerita mengenai pendidikan dan karier Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Mengawali sambutannya, kepala negara mengungkapkan Revolusi Industri 4.0, disrupsi teknologi, dan pandemi Covid-19 mempercepat gelombang besar perubahan dunia. Sehingga yang terjadi adalah ketidakpastian itu sangat tinggi sekali.

"Oleh sebab itu, pendidikan tinggi harus memfasilitasi mahasiswa untuk mengembangkan talentanya. Dan mengubah pola-pola lama yang memang itu sudah saatnya kita tinggal. Jangan mahasiswa itu dipagari oleh terlalu banyak program-program studi di fakultas. Ini saya kira sudah berkali-kali saya sampaikan tapi akan saya ulang terus," ujar Jokowi.

Untuk itu, Jokowi memerintahkan PTN untuk memfasilitasi mahasiswa mengembangkan talenta yang belum tentu sesuai dengan pilihan program studi, jurusan maupun fakultas. Sebab, pilihan prodi, jurusan, dan fakultas tidak selalu berdasarkan pada talenta.

"Dan ketidakcocokan itu kadang-kadang terasa saat kuliah. Karena yang kita tahu orang bisa berkarier yang jauh dari ilmu di ijazahnya," kata mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

"Yang sering saya berikan untuk contoh itu Pak Budi Gunadi Sadikin. Itu fakultasnya di ITB Fakultas Teknik Fisika Nuklir. Fakultasnya Teknik Fisika Nuklir. Kemudian kerjanya di bank, banking, tapi nyatanya juga bisa melesat sampai menduduki tangga paling puncak direktur utama Bank Mandiri. Melompat lagi jadi menteri kesehatan," lanjutnya.



Oleh karena itu, menurut Jokowi, sejak S1, bakat-bakat itu difasilitasi. Sebab, kembali lagi, ketidakpastian global dan perubahan dunia begitu cepat.

"Sehingga menurut saya sekarang ini mahasiswa harus harus paham semuanya. Paham matematika, paham statistik, paham komputer, paham ilmu komputer, paham bahasa, dan bahasa itu bukan bahasa Inggris saja, ke depan bahasa coding. Hati-hati mengenai ini. Perubahan ini akan cepat sekali karena pandemi, lebih cepat lagi karena pandemi," ujar Jokowi.

Lalu, apa solusi yang bisa diambil PTN? Eks Wali Kota Solo itu bilang mahasiswa tidak perlu pindah prodi, jurusan, maupun fakultas. Jokowi meminta mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengambil kuliah sesuai talenta.

"Ini yang harus kita fasilitasi. Artinya apa? Perbanyak mata kuliah pilihan baik di dalam kampus maupun di luar kampus. Sekali lagi kita ini berada pada transisi perubahan besar dunia yang harus kita antisipasi," katanya.

"Berikan mahasiswa kemerdekaan untuk belajar. Belajar kepada siapa saja, belajar kepada praktisi, kepada industri, karena sebagian besar mahasiswa nanti akan jadi praktisi. Sebagian besar, artinya ada juga yang akan menjadi dosen, menjadi peneliti, itulah esensi merdeka belajar di mana mahasiswa merdeka untuk belajar dan juga kampus juga memperoleh kemerdekaan untuk berinovasi," lanjutnya.

Lebih lanjut, Jokowi mengungkapkan, ke depan semua akan serba hybrid. Mulai dari pengetahuan hingga kemampuan.

"Dan ke depan, bukan ke depan, sekarang sudah terjadi, banyak job yang hilang, banyak pekerjaan-pekerjaan lama yang hilang, dan muncul, tapi juga muncul banyak pekerjaan-pekerjaan baru. Ini yang harus diantisipasi perguruan tinggi," ujar Jokowi.

"Inilah kecepatan perubahan yang betul-betul kita tidak duga dan dipercepat lagi oleh karena ada pandemi. Ini yang semua secepatnya kita harus masuk ke transisi dan mulai berdaptasi dengan hal-hal seperti ini," lanjutnya.



[Gambas:Video CNBC]

(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading