Sri Mulyani: Negara Maju Jauh Lebih Parah Terkena Covid-19

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
25 August 2021 15:10
Menteri Keuangan Sri Mulyani Saat Konfrensi Pers Mengenai Pemerintah & Bank Indonesia Perkuat Kerja Sama dlm Pembiayaan Sektor Kesehatan & Kemanusiaan (Tangkapan Layar Youtube Kemenkeu RI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia sebagai negara berkembang memiliki kasus covid-19 yang lebih sedikit, dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan kawasan Eropa lainnya.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani saat melakukan rapat dengan Banggar DPR, Rabu (25/8/2021).

"Kalau kita lihat negara-negara yang ekonomi kuat pun, per 1 juta penduduknya jauh lebih banyak terkena Covid-19," jelas Sri Mulyani.


Sejak kasus Covid-19 masuk pada tahun lalu hingga saat ini, kata Sri Mulyani secara global kasus aktif Covid-19 sudah menjangkit 213 juta penduduk.

Secara rinci, Sri Mulyani menyebut, negara yang paling banyak terjangkit secara dilihat dari kasus harian per 1 juta penduduk, yakni Amerika Serikat sebanyak 147.000. Iran 35.500, Inggris 32.000, dan India 30.000

Kemudian Brazil sebanyak 29.300, Jepang 22.200, Malaysia sebanyak 21.000, Perancis 21.000, Rusia 20.000, Thailand 19.000. "Indonesia rata-rata tujuh hari terakhir 16.800," jelas Sri Mulyani.

"Berdasarkan jumlah covid yang ada, Indonesia dibandingkan dengan negara ekonomi-ekonomi yang lebih bagus, lebih kuat atau populasinya lebih sedikit dari Indonesia, income per capita lebih tinggi tidak menjamin mereka sukses untuk mengendalikan," ujarnya lagi.

Kendati demikian, dari kasus kematian, Indonesia berada posisi tertinggi yakni 1.197. Kalau dilihat dari per 1 juta populasi, Indonesia ada di 4 kematian per 1 juta populasi.

Kemudian negara-negara dengan angka penularan kasus Covid-19 tertinggi, seperti AS 3 meninggal per 1 juta populasi, Rusia 5 per 1 juta populasi, Brazil 4 per 1 juta populasi, Meksiko 5 per 1 juta populasi. Kemudian Iran 7 per 1 juta populasi, Vietnam 4 juta per 1 juta populasi dan Thailand 4 per 1 juta populasi.

"Dari angka kumulatif kematian, Indonesia ada di ranking ke-8. Kalau kita hitung per populasi, sebetulnya Indonesia lebih kecil, karena jumlah populasinya kecil. Sama seperti India 0,03% dan kita ada di 0,05%," jelas Sri Mulyani.

Pandemi Covid-19, kata Sri Mulyani menjadi faktor dominan penentu perekonomian suatu negara. Oleh karena itu, pemerintah melihat perekonomian selalu mendahulukan perkembangan dari pandemi Covid-19.

"Semua negara merespon seperti melakukan lockdown. Ada yang kemudian mengakselerasi vaksinasi, ada yang menggunakan disiplin prokes. Ada yang menggunakan lockdown dan kemudian ekonominya berhenti. Ada yang menggunakan kombinasi gas dan rem seperti Indonesia," jelas Sri Mulyani.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kasus Covid Turun 95%, Sri Mulyani: Masalah Belum Selesai!


(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading