Nota Keuangan & RAPBN 2022

Harga CPO Diramal Jeblok 2022, Setoran ke Negara Kena Imbas!

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
18 August 2021 11:10
Ilustrasi kelapa sawit. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan penerimaan bea keluar RAPBN tahun anggaran 2022, penerimaan ditargetkan sebesar Rp 4,91 triliun atau turun 72,7% dibandingkan outlook APBN 2021.

Penurunan target bea keluar tersebut disebabkan karena harga CPO pada 2022 diproyeksikan akan 'jeblok' atau turun dibandingkan 2021.

"Target tersebut didasarkan oleh proyeksi harga CPO pada tahun 2022 yang diperkirakan tidak setinggi tahun 2021," seperti dikutip dalam Buku Nota Keuangan RAPBN 2022, Rabu (18/8/2021).


Hal tersebut juga berimbas terhadap penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang hanya ditargetkan mencapai Rp 333,2 triliun atau lebih rendah dari outlook APBN 2021 yang sebesar Rp Rp 357,21 triliun

Untuk diketahui, pemerintah menargetkan belanja sebesar Rp 2.708,7 triliun pada tahun anggaran 2022. Oleh sebab itu, diperlukan peningkatan pendapatan negara di tahun depan menjadi sebesar Rp 1.840,7 triliun.

Pendapatan tersebut terdiri dari penerimaan perpajakan yang ditetapkan sebesar Rp1.506,9 triliun, serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp 333,2 triliun.

"PNBP Pada 2022 utamanya akan didukung oleh pendapatan SDA non migas, pendapatan KND, dan pendapatan BLU," jelas pemerintah.

PNBP merupakan sumber pendapatan negara terbesar kedua setelah penerimaan perpajakan. Selama periode 2017-2020, PNBP berkontribusi rata-rata sebesar 19,7% terhadap total pendapatan negara.

Adapun PNBP mengalami pertumbuhan yang fluktuatif dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 3,4% per tahun selama periode 2017-2020.

Pertumbuhan tertinggi terjadi pada 2018 yakni 31,5%, terutama didukung oleh pendapatan SDA migas akibat dari tingginya harga minyak bumi yang saat itu mencapai US$ 67,5 per barel, lebih tinggi dibandingkan harga minyak pada 2017 yang sebesar US$ 51,2 per barel.

Adapun, pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2020 yang terkontraksi sebesar 15,9%. Penurunan tersebut terjadi hampir di seluruh sektor di PNBP sebagai akibat dari perlambatan perekonomian global dan dampak dari pandemi Covid-19. "Terutama pada harga minyak bumi hingga mencapai US$ 40,4 per barel," jelas pemerintah.

Kinerja PNBP diperkirakan mengalami perbaikan pada 2021. Realisasi PNBP pada akhir tahun 2021 diperkirakan mencapai Rp 357,21 triliun atau tumbuh 3,9% dibandingkan dengan realisasi tahun 2020.

Dalam rangka mengoptimalkan kontribusi PNBP dalam APBN tahun anggaran 2022, pemerintah akan mengambil beberapa langkah kebijakan.

Diantaranya, optimalisasi pengelolaan SDA dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan, optimalisasi pengelolaan aset agar lebih produktif antara lain dengan penerapan Highest and Best Use (HBU). Serta peningkatan inovasi dan kualitas layanan pada satuan kerja dan BLU yang terjangkau, tersedia dan berkesinambungan, dan sebagainya.


[Gambas:Video CNBC]

(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading