Internasional

Biden Buka-bukaan soal Taliban: Salahkan Militer, Sebut China

News - Tommy Sorongan, CNBC Indonesia
17 August 2021 12:00
Joe Biden (AP/Patrick Semansky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menyalahkan pemimpin politik Afghanistan atas kekacauan yang terjadi saat ini, termasuk jatuhnya Kabul ke tangan Taliban.

Apalagi dengan larinya para pemimpin politik dari negara itu dengan keengganan tentara pemerintah memerangi kelompok Taliban.

Sebab itu, Biden menegaskan keputusannya untuk menarik tentara AS dari Afghanistan adalah keputusan yang benar, di tengah kritik pedas yang dilayangkan kepadanya.


Dia pun mengkritik mantan Presiden Donald Trump dan menyebut kebijakannya-lah yang membuat Taliban bangkit. Trump kata dia, memberdayakan Taliban dan meninggalkan kelompok itu di posisi terkuat sejak 2001.

"Saya berdiri tegak pada apa yang telah saya putuskan," kata Biden dalam pidatonya di Gedung Putih, dikutip CNBC International, Selasa (17/8).

"Setelah 20 tahun saya belajar dengan cara sulit, bahwa tidak pernah ada waktu yang tepat untuk menarik pasukan AS. Itu sebabnya kami masih berada di sana."

"Para pemimpin politik Afghanistan menyerah dan melarikan diri dari negara itu. Militer Afghanistan menyerah, tanpa berusaha untuk melawan."

Dalam kesempatan yang sama Biden juga menyindir China dan Rusia. Menurutnya makin lama AS terlibat di perang Afghanistan, hal itu akan makin menguntungkan China dan Rusia.

"Pesaing strategis sejati kami, China dan Rusia tidak akan menyukai apa pun selain AS terus menyalurkan miliaran dolar dalam sumber daya dan perhatian dalam menstabilkan Afghanistan tanpa batas waktu," kata Biden.

"Saya tahu keputusan saya akan dikritik, tetapi saya lebih suka menerima semua kritik itu daripada meneruskan keputusan ini kepada presiden masa depan," kata Biden.

Biden juga memerintahkan pengerahan sekitar 5.000 tentara AS ke Kabul untuk mengevakuasi staf Kedutaan Besar AS sepanjang akhir pekan.

Departemen Luar Negeri AS mengkonfirmasi pada Minggu malam bahwa semua staf diplomatik AS di kedutaan telah diangkut dengan aman ke bandara internasional Kabul.

Ribuan warga Afghanistan juga mengerumuni landasan di bandara, putus asa untuk melarikan diri dari negara yang sekarang benar-benar dikuasai oleh Taliban.

Terkait dengan ini, Biden juga berbicara langsung kepada para veteran dan diplomat Amerika yang merasa penarikan itu telah membuat pengorbanan mereka sia-sia.

"Saya ingin mengakui betapa menyakitkan ini bagi banyak dari kita. Adegan yang kami lihat di Afghanistan, sangat memilukan, terutama bagi para veteran kami, diplomat kami, pekerja kemanusiaan, siapa pun yang telah menghabiskan waktu di lapangan bekerja untuk mendukung rakyat Afghanistan," katanya.

Pada satu titik, Biden pun menyinggung soal dinas militer putranya sendiri - Beau Biden, yang dikirim ke Irak selama setahun dan kemudian meninggal karena kanker pada 2015.

"Bagi mereka yang kehilangan orang yang dicintai di Afghanistan, dan untuk orang Amerika yang telah berjuang dan mengabdi di negara ini, layani negara kami di Afghanistan. Ini sangat, sangat pribadi. Ini juga untuk saya," katanya.

Meskipun kalah jumlah dengan militer Afghanistan, yang telah lama dibantu oleh pasukan koalisi AS dan NATO, Taliban melakukan serangkaian kemenangan mengejutkan dalam beberapa pekan terakhir.

Ketika Taliban bergerak lebih dekat ke ibu kota selama akhir pekan, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani meninggalkan negara itu dan negara-negara Barat bergegas untuk mengevakuasi kedutaan di tengah situasi keamanan yang memburuk

AS masuk ke Afghanistan pascaserangan 9 September 2001 yang dilakukan Al-Qaeda yang terkait dengan Taliban saat itu di New York dan Washington. Biden sendiri sudah bertekad menarik semua pasukan AS pada 31 Agustus nanti.

Sementara itu, mengutip AFP, China dan Rusia kini meningkatkan kontak dengan Taliban pascamundurnya AS. Rusia tetap membuka kedutaan di Kabul dan merencanakan diskusi lebih lanjut dengan Taliban.

"Tidak ada rencana evakuasi. Kami berhubungan langsung dengan duta besar Moskow di Kabul dan pegawai kedutaan Rusia terus bekerja dengan tenang," ucap Direktur dari Departemen Asia Kementerian Luar Negeri Rusia, Zamir Kabulov dikutip Tass.

Rusia pun serius untuk menarik Afghanistan bergabung dalam blok perdagangannya yang dinamakan Eurasian Economic Union. Bahkan dalam situasi kemenangan Taliban ini Moskow dilaporkan berharap untuk membangun hubungan persahabatan antara Moskow dan kepemimpinan baru Afghanistan.

Sementara China, sudah lebih maju membuka komunikasi dengan Taliban sejak 28 Juli. Bahkan pertemuan dua hari sudah dilakukan di kota Tianjin melibatkan Sembilan wakil Taliban dan Menteri Luar Negeri Wang Yi.

Mengutip South China Morning Post (SCMP), China menganggap bahwa mereka masih memiliki kepentingan besar di sana.

"Kedutaan China telah meminta berbagai faksi di Afghanistan untuk memastikan keamanan negara-negara China, institusi China dan kepentingan China," ujar kedutaan China di Kabul.

"Kedutaan akan mengambil langkah lebih lanjut untuk mengingatkan warga negara China untuk mengikuti situasi keamanan, meningkatkan tindakan pencegahan keselamatan dan menahan diri untuk tidak pergi ke luar."


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Taliban Menang di Afghanistan, Biden Diminta Mundur


(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading