Internasional

Bom Raksasa Meledak Dekat Kapal Perang AS, Ini Faktanya

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
13 August 2021 09:05
Angkatan Laut AS melakukan uji coba kejut terhadap desain kapal baru menggunakan bahan peledak hidup untuk memenuhi persyaratan misi yang menuntut dalam kondisi sulit yang mungkin mereka hadapi dalam pertempuran. MC3 Novalee Manzella/Angkatan Laut AS.

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) kembali melakukan latihan perang sekaligus sebagai pamer kekuatan di Laut Atlantik pada 8 Agustus 2021. Tak main-main, militer AS meluncurkan bom seberat 18 ton ke laut dan membuat guncangan bak gempa dengan magnitude 3,9.

Serangan kejut ini adalah uji coba ke kapal induk canggih USS Gerald R Ford, demi memeriksa daya tahan kapal dari guncangan dan kemampuannya mempertahankan diri dalam operasi di semua situasi pertempuran.


Diakui ada kerusakan kecil di kapal tersebut. "Kami memang memiliki beberapa hal yang rusak, dan kami akan memperbaikinya," ujar Kapten Kapal Paul Lanziolotta, dikutip dari Defence News, Jumat (13/8/2021).

Ini merupakan uji coba terbaru setelah uji coba serupa dilakukan 18 Juni dan 16 Juli. Sebelumnya tes untuk kapal induk pernah dilakukan ke USS Theodore Roosevelt tahun 1987.

Dilaporkan bahwa di 2020, angkatan laut China memiliki 360 kapal dan Angkatan Laut AS 297 kapal. Namun, AS memiliki lebih banyak kapal besar, dengan 11 kapal induk, 92 kapal penjelajah dan perusak.

Uji ini diharapkan dapat memberikan data yang sangat berharga untuk produksi massal kapal induk kelas Ford selanjutnya di AS. Negeri yang kini dipimpin Presiden Joe Biden itu telah menginvestasikan dana yang besar sejak membuat kapal tersebut di tahun 1960an.

Sementara itu, militer China menyakini serangan kejut itu adalah pesan baru ke Tiongkok dan Rusia. Ini dilakukan di tengah ketengan AS dengan kedua negara, termasuk soal wilayah maritim.

Di mana China berseteru dengan AS dan sekutu soal Laut China Timur dan Laut China Selatan. Sementara Rusia bentrok dengan AS dan Nato di Laut Hitam, soal Krimea.

"Selain pengumpulan data, alasan lain untuk mengumumkannya adalah untuk mengirim pesan ke China dan Rusia bahwa kapal induk AS memiliki ketahanan super dan mereka tidak khawatir tentang senjata anti-kapal konvensional China atau Rusia," kata mantan instruktur militer China Song Zhongping, dimuat South China Morning Post (SCMP).

"Ledakan eksplosif seberat 40.000 pon jauh lebih besar daripada hulu ledak tunggal rudal atau torpedo konvensional."

China sendiri tengah mengembangkan rudal pembunuh kapal induk, DF-21D dan DF-26. Rusia juga sedang menguji rudal jelajah anti kapal hipersonik, Zircon, yang memiliki kecepatan maksimum 9 Mach.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ngeri! AS Tembak Roket Hipersonik, Ada Apa Biden?


(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading