Internasional

Setelah Covid, India Kini Terancam "Tsunami" Diabetes

News - Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
12 August 2021 15:50
Pelonggaran lockdown di India. (AP/Channi Anand)

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah mengalami "tsunami" Covid-19 India kembali terancam dengan gelombang "tsunami" lain yakni diabetes. Hal ini diduga akibat obat virus corona yang meningkatkan konsentrasi glukosa dalam darah.

Seorang pasien bernama Vipul Shah telah menghabiskan 11 hari dalam perawatan kritis Covid-19 di sebuah rumah sakit di Mumbai. Shah, yang tidak memiliki riwayat diabetes sebelumnya, diberikan steroid yang digunakan untuk mengobati infeksi virus corona.


Steroid sendiri diketahui dapat mengurangi peradangan di paru-paru untuk Covid-19. Obat ini juga membantu menghentikan beberapa kerusakan yang dapat terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bekerja berlebihan untuk melawan virus.

Namun, steroid juga mengurangi kekebalan dan meningkatkan kadar gula darah pada pasien Covid-19 diabetes dan non-diabetes. Hampir setahun setelah pemulihan, pria berusia 47 tahun itu masih menjalani pengobatan untuk mengontrol gula darahnya.

"Saya tahu banyak orang seperti saya yang minum obat diabetes setelah sembuh dari Covid-19," kata Shah mengutip BBC News, Kamis (12/8/2021).

India menyumbang satu dari enam orang di dunia dengan diabetes. Negara yang memiliki jumlah penderita diabetes sekitar 77 juta orang, terbesar kedua setelah China yang memiliki 116 juta orang.

Sementara, diabetes disebut salah satu dari sekelompok kondisi mendasar yang menempatkan orang pada peningkatan risiko penyakit Covid-19 yang parah. Lainnya adalah obesitas, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan paru-paru.

Dr Rahul Baxi, ahli diabetes yang berbasis di Mumbai, mengatakan sejumlah besar pasien yang telah pulih dari Covid-19 berisiko terkena diabetes yang baru didiagnosis. Dengan hampir 32 juta infeksi yang tercatat, India memiliki beban kasus Covid-19 terbesar kedua di dunia, di belakang AS.

"Kekhawatirannya adalah bahwa Covid-19 dapat memicu tsunami diabetes di India setelah pandemi berakhir," kata Dr Baxi.

Dia mengatakan 8-10% pasiennya tanpa riwayat diabetes yang tertular Covid-19 terus memiliki kadar gula tinggi beberapa bulan setelah pemulihan dan sedang menjalani pengobatan.

"Beberapa memiliki diabetes ambang. Yang lain mengelola dengan obat-obatan bahkan setahun setelah pemulihan," katanya.

Dokter di seluruh dunia memperdebatkan apakah Covid-19 itu sendiri yang menyebabkan diabetes pada pasien yang tidak memiliki riwayat sebelumnya. Selain steroid, ini bisa terjadi karena badai sitokin ketika sistem tubuh bekerja berlebihan untuk melawan virus corona atau virus melukai sel-sel pancreas yang membuat insulin.

Sementara itu, sebuah studi peer-review oleh sejumlah dokter India baru-baru ini melihat hubungan pengobatan Covid-19 dengan penyakit mucormycosis atau "jamur hitam" yang mematikan. India sendiri telah melaporkan lebih dari 45.000 kasus infeksi jamur ini, yang menyerang hidung, mata, dan terkadang otak, dan biasanya menyerang 12-18 hari setelah sembuh dari Covid-19.

Studi ini menemukan bahwa 13 dari 127 pasien atau 10% dari kasus itu juga memiliki "diabetes meski usianya masih muda. Rata-rata usia mereka sekitar 36 tahun, di mana tujuh di antaranya bahkan tidak mendapatkan obat steroid atau oksigen tambahan saat sakit Covid-19.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading