Internasional

Ternyata Bukan Pfizer, Ini Vaksin Terampuh Lawan Varian Delta

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
11 August 2021 09:20
A woman reacts as she receives a shot of the Pfizer COVID-19 vaccine at a drive-thru vaccination site during a stricter lockdown in Manila, Philippines on Friday. August 6, 2021. Thousands of people jammed coronavirus vaccination centers in the Philippine capital, defying social distancing restrictions, after false news spread that unvaccinated residents would be deprived of cash aid or barred from leaving home during a two-week lockdown that started Friday. (AP Photo/Basilio Sepe)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah studi baru dirilis soal efikasi vaksin Covid-19 lawan varian Delta. Hasilnya, vaksin CovidĀ  Moderna ternyata paling efektif melawan varian yang ditemukan di India itu, bahkan melebihi efektivitas vaksin Pfizer/BioNTech.

Ini berdasarkan dua laporan yang diposting di medRxiv pada hari Minggu (8/8/2021). Penelitian yang berbeda itu dilakukan di Amerika Serikat (AS) dan Kanada.


Penelitian pertama melibatkan 50.000 pasien di Mayo Clinic Health System, AS. Para peneliti menemukan efektivitas vaksin Moderna terhadap infeksi telah turun menjadi 76% dari yang sebelumnya hingga 86%.

Untuk vaksin Pfizer/BioNTech, selama periode yang sama, efektivitas vaksin turun menjadi 42% dari yang sebelumnya 76%. Hasil ini membuat para peneliti mengerucut kepada saran yang meminta agar vaksin buatan Moderna digunakan untuk menjadi dosis penguat dalam membentuk antibodi.

"Sementara kedua vaksin tetap efektif untuk mencegah rawat inap Covid-19, suntikan booster Moderna mungkin diperlukan segera bagi siapa saja yang mendapatkan vaksin Pfizer atau Moderna awal tahun ini," kata Dr Venky Soundararajan yang memimpin studi Mayo, dikutip Rabu (11/8/2021).

Studi lainnya melibatkan, penghuni panti jompo lansia di Ontario, Kanada. Hasilnya ada respons kekebalan yang lebih kuat setelah vaksin Moderna diberikan setelah vaksin Pfizer/BioNTech.

"Orang tua mungkin memerlukan dosis vaksin yang lebih tinggi, booster, dan tindakan pencegahan lainnya," kata Dr Anne-Claude Gingras dari Lunenfeld-Tanenbaum Research Institute di Toronto, yang memimpin penelitian di Kanada.

Mengomentari hal ini, juru bicara Pfizer mengatakan bahwa pihaknya yakin bahwa dosis penguat atau booster masih harus diberikan. Terutama dalam melawan Varian Delta lebih ganas dalam penularan dan gejala ini.

"Kami terus percaya ... penguat dosis ketiga mungkin diperlukan dalam waktu enam sampai 12 bulan setelah vaksinasi penuh untuk mempertahankan tingkat perlindungan tertinggi," ujar wakil perusahaan.

Sebenarnya, penelitian mengenai vaksin Covid-19 saat ini sedang dalam pendalaman lanjutan. Pasalnya, beberapa studi mengatakan bahwa antibodi manusia akan memudar setelah beberapa bulan menerima vaksin corona.

Hal ini membuat beberapa otoritas kesehatan di beberapa negara mulai menerapkan dosis ketiga bagi para warganya. Namun, organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut bahwa vaksin booster yang saat ini lebih banyak diterapkan negara kaya akan menciptakan defisit vaksin di negara-negara berpenghasilan rendah.

"Kami membutuhkan pembalikan mendesak dari sebagian besar vaksin masuk ke negara-negara berpenghasilan tinggi, ke sebagian besar ke negara-negara berpenghasilan rendah," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam sebuah konferensi pers beberapa pekan lalu.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Waduh! India yang Raja Produsen Vaksin Saja Krisis Vaksin


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading