Pembangkit Nuklir Skala Kecil Bisa Jadi Opsi Gantikan PLTD

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
29 July 2021 16:10
Melihat PLTD Tertua di Kendari yang Berhenti Beroperasi Karena Tol Listrik

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia kini mempertimbangkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) agar tak lagi menjadi opsi sumber energi terakhir. Dengan teknologi terbaru, PLTN kini bisa dikembangkan dalam skala kecil, tak lagi harus dalam skala besar.

Dengan demikian, ini bisa menjadi opsi untuk mengganti Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).

Hal tersebut disampaikan Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto. Dia mengatakan, PLTN skala kecil sudah semakin ekonomis untuk dikembangkan.


Sugeng mengatakan, investasi untuk mengembangkan PLTN mulanya memang cukup mahal karena ada rasio kapasitas minimal di mana idealnya sekitar 500 Mega Watt (MW) atau mendekati 1 Giga Watt (GW).

"Dulu investasi mahal karena ada rasio misal idealnya di atas 500 MW mendekati 1 GW baru ideal," paparnya dalam wawancara bersama CNBC Indonesia, Kamis (29/07/2021).

Akan tetapi saat ini dengan adanya teknologi baru dan generasi keempat, PLTN bisa menjadi lebih ekonomis meski hanya dengan kapasitas 1 MW sampai 2 MW. PLTN dengan kapasitas kecil menurutnya sangat cocok dengan kondisi Indonesia yang merupakan negara kepulauan.

"Sekarang justru teknologi baru dan generasi keempat bisa dengan 1-2 Mega Watt. PLTN reaktor kapasitas kecil penting untuk negara kepulauan kita," ujarnya.

Lebih lanjut Sugeng mengatakan, pemanfaatan PLTD berdampak buruk pada lingkungan dan membebani PT PLN (Persero) karena biaya pokok penyediaan (BPP) mahal, mencapai US$ 25 sen per kilo Watt hour (kWh). Sementara dengan teknologi nuklir, harga listriknya bisa hanya US$ 8 sen per kWh, sehingga ini menjadi menarik untuk dikembangkan.

"Diesel selain polutif juga bikin berdarah-darahnya PLN karena BPP-nya sudah US$ 25 sen, sedangkan dengan teknologi nuklir baru hanya US$ 8 sen," paparnya.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan RI akan membangun PLTN setelah 2035. Hal tersebut disampaikan Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Chrisnawan Anditya.

"Beyond 2035, time frame-nya adalah bagaimana kita bisa mengembangkan energi nuklir," paparnya dalam Bincang-Bincang Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Jumat (23/07/2021).

Menurutnya, RI memiliki potensi dan sumber daya dalam pemanfaatan nuklir untuk kebutuhan pasokan listrik. Dia menyebut, berdasarkan laporan International Atomic Energy Agency (IAEA), dari 19 persyaratan membangun PLTN, tinggal tiga syarat lagi yang harus dipenuhi Indonesia.

"Kita memiliki potensi dan sumber daya. Dan berdasarkan laporan IAEA, dari 19 persyaratan, tinggal tiga persyaratan yang harus dipenuhi RI," jelasnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Tak Harus Skala Besar, PLTN Bisa Dibangun Skala Ratusan MW


(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading