Freeport Dapat Utangan Baru Rp 14,5 T untuk Proyek Smelter

News - Wilda Asmarini, CNBC Indonesia
26 July 2021 16:53
Suasana penambangan Grasberg Freeport. (CNBC Indonesia/Suhendra)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Freeport Indonesia disebutkan telah mengantongi pinjaman sebesar US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14,5 triliun (asumsi kurs Rp 14.500 per US$) untuk mendanai tiga proyek smelter senilai US$ 3,3 miliar atau sekitar Rp 47,8 triliun.

Hal tersebut terungkap dalam laporan kinerja semester I 2021 Freeport McMoran (FCX) pekan lalu, 22 Juli 2021.

"PTFI menandatangani fasilitas kredit bank lima tahun tanpa jaminan senilai US$ 1 miliar untuk memajukan proyek-proyek ini," tutur Chairman dan CEO Freeport McMoran Richard C. Adkerson dalam laporan tersebut, dikutip Senin (26/07/2021).


Sementara untuk pembiayaan ke depannya akan dilakukan melalui utang oleh PTFI.

Adapun pinjaman tersebut untuk membiayai tiga proyek yang tengah dikerjakan PT Freeport Indonesia, antara lain:

1. Proyek Smelter baru di Manyar, JIIPE, Gresik Jawa Timur

PT Freeport Indonesia telah menunjuk dan menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaan asal Jepang, PT Chiyoda International Indonesia, untuk kegiatan Engineering, Procurement, and Construction (EPC) proyek smelter Manyar, Gresik, Jawa Timur, pada Kamis, 15 Juli 2021.

Kontrak ini mencakup pengerjaan proyek pembangunan smelter berkapasitas 1,7 juta ton pengolahan konsentrat per tahun serta fasilitas Precious Metal Refinery (PMR) di kawasan Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur.

Adapun produk dari hasil smelter ini yakni sekitar 600 ribu ton katoda tembaga per tahun.

Meski sebelumnya PTFI enggan menyebutkan nilai kontrak EPC proyek smelter ini, namun Freeport McMoran (FCX), pemegang 49% saham PTFI mengungkapkan dalam laporan kinerja semester I 2021 pekan lalu, 22 Juli 2021 bahwa nilai kontrak EPC ini diperkirakan sekitar US$ 2,8 miliar atau sekitar Rp 40,6 triliun (asumsi kurs Rp 14.500 per US$).

Nilai tersebut tidak termasuk bunga yang dikapitalisasi, biaya pemilik dan uji coba (commissioning).

Bahkan, FCX memperkirakan proyek ini baru tuntas pada 2024.

"Ditargetkan bisa selesai sesegera mungkin pada 2024," ungkap laporan FCX tersebut, dan menambahkan target ini tergantung pada ada atau tidaknya gangguan selama pandemi ke depannya.

Sebelumnya, Vice President Corporate Communications PT Freeport Indonesia Riza Pratama mengatakan, Freeport akan berupaya merampungkan proyek ini pada 2023. Target ini menurutnya disesuaikan dengan komitmen Freeport pada saat kesepakatan divestasi 51% dengan pemerintah.

Seperti diketahui, dalam perjanjian divestasi saham yang dilakukan pada 2018, salah satu komitmen Freeport yaitu membangun smelter baru dan ditargetkan bisa beroperasi pada 2023.

2. Proyek ekspansi smelter PT Smelting:
Ditujukan untuk meningkatkan kapasitas pengolahan konsentrat tembaga PT Smelting sebesar 30% menjadi sekitar 1,3 juta ton per tahun.

Proyek ini diperkirakan memakan biaya sekitar US$ 250 juta atau sekitar Rp 3,6 triliun dan ditargetkan rampung dan mulai beroperasi pada 2023.


3. Proyek PMR
Untuk memproses "lumpur" (slimes) dari pengolahan PT Smelting dan smelter yang baru di JIIPE, Gresik. Diperkirakan membutuhkan biaya sekitar US$ 250 juta atau sekitar Rp 3,6 triliun.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Bos Freeport Beberkan Alasan Sebagian Tembaga Masih Diekspor


(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading