Internasional

Usai Babak Belur Kena Covid, Apa Kabar India Sekarang?

News - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
25 July 2021 06:55
People queue up for COVID-19 vaccine in Mumbai, India, Monday, April 26, 2021. New infections are rising faster in India than any other place in the world, stunning authorities and capsizing its fragile health system. (AP Photo/Rafiq Maqbool)

Jakarta, CNBC Indonesia - India sempat mengalami 'tsunami' Covid-19 dan kasus di negara itu naik dengan tajam. Lalu bagaimana kabar India sekarang, apakah sudah bebas dari virus asal Wuhan, China ini?

CNBC Internasional mencatat, bahwa situasi di negeri Bollywood saat ini ternyata masih buruk. Namun tidak seburuk saat pukulan gelombang kedua terjadi dengan kasus baru mencapai rata-rata 400.000 per hari.

Salah satu contohnya adalah pada 7 Mei lalu, India melaporkan ada 414.188 infeksi baru dan beberapa ribu angka kematian. Namun angka itu menurun 10 kali lipat dalam beberapa hari terakhir.


Misalnya pada Kamis lalu (22/7), infeksi baru tercatat 41.383 kasus, sementara angka kematian mencapai 507 kasus. Data ini berasal dari Kementerian Kesehatan India, dikutip CNBC dari akun Twitter resmi institusi tersebut.

Dalam 7 hari terakhir, kasus di India rata-rata terdapat 38.548 kasus baru per hari. Menurut data dari Universitas Johns Hopkins dan Our Wold in Data, capaian tersebut menandakan kasus di India menurun rata-rata 3%.

Ini berbeda dengan negara lain yang baru mengalami lonjakan kasus. Prancis, misalnya, jumlah kasus baru selama 7 hari terakhir adalah 223% dan Italia 112%, serta Jerman mengalami lonjakan 50%.

Di Amerika Serikat juga mengalami hal yang sama, di mana persentase perubahan dalam tujuh hari adalah 58% lebih tinggi dari periode tujuh hari sebelumnya.

Gelombang kedua India memang disebabkan oleh varian Delta, yang ditemukan di negara itu pada Oktober lalu. Sejak saat itu, varian menular di India dan juga sejumlah negara lain di dunia.

Varian juga telah menggantikan posisi varian Alfa yang sebelumnya dominan. Varian Alfa diketahui ditemukan di Inggris pada musim gugur lalu.

"(Varian Delta) diperkirakan akan dengan cepat mengungguli varian lain dan menjadi garis keturunan dominan yang beredar dalam beberapa bulan mendatang," kata WHO.

Dalam laporan mingguannya pada Rabu lalu, WHO menyatakan pada 20 Juli prevaliensi Delta di antara spesimen yang dibutuhkan dalam empat minggu terakhir melebihi 75% negara di seluruh dunia. Ini termasuk Australia, Bangladesh, Botswana, hCina, Denmark, India, Indonesia, Israel, Portugal, Rusia, Singapura, Afrika Selatan, dan Inggris.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading