Internasional

Studi Sebut Asal Usul Covid Bukan China Tapi Negara Ini

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
23 July 2021 15:30
A woman walks past the Spanish Steps in Rome, Thursday, Dec. 24, 2020. Italy went into a modified nationwide lockdown Thursday for the Christmas and New Year period, with restrictions on personal movement and commercial activity similar to the 10 weeks of hard lockdown Italy imposed from March to May when the country became the epicenter of the outbreak in Europe. (Cecilia Fabiano/LaPresse via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Studi terbaru menguak teori lain soal asal usul corona (Covid-19). Virus yang jadi pandemi global itu disebut sebenarnya bukan berasal dari Wuhan, China, tempat ia mewabah pertama kali.

Dalam laporan Financial Times, kajian Istituto Nazionale Tumori Milan menyebut SARS-CoV-2 awalnya menyebar di wilayah Eropa. Ini terutama di Italia.

"Hasil pengujian ulang ini menunjukkan bahwa apa yang kami laporkan sebelumnya pada pasien tanpa gejala adalah sinyal yang masuk akal, jika sirkulasi awal Covid-19 ada di Italia," sebut Giovanni Apolone, salah satu peneliti yang juga merancang laporan itu, dikutip Jumat (23/7/2021).


"Jika ini dikonfirmasi, ini akan menjelaskan ledakan kasus simtomatik yang diamati di Italia (pada 2020). SARS-CoV-2 atau versi sebelumnya, beredar diam-diam."

Dalam penelitiannya, ilmuwan awalnya menyaring 959 orang untuk kanker paru-paru sebelum pandemi. Pada 2020 lalu mereka menguji sampel lagi, mencari antibodi terkait virus corona dan mengatakan mereka telah menemukan jejak infeksi.

Atas permintaan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sampel tersebut diuji ulang oleh laboratorium VisMederi di Siena, Italia. Fasilitas ini berafiliasi dengan WHO di Universitas Erasmus di Belanda.

Marion Koopmans, kepala virologi di Erasmus, mengatakan hasil baru itu "menarik". Namun, ia memperingatkan bahwa meskipun ada beberapa bukti antibodi, tidak ada sampel yang memberikan bukti konklusif bahwa infeksi sebelumnya itu merupakan Covid-19.

"Kami menggunakan ambang batas yang agak ketat dan tidak dapat mengesampingkan bahwa beberapa reaktivitas yang diamati adalah nyata," katanya.

"Namun, untuk konfirmasi sirkulasi sebelumnya, kami akan merekomendasikan penelitian pasien dengan penyakit yang tidak dapat dijelaskan untuk konfirmasi virologi."

Kemudian peneliti juga menguji ulang 29 sampel asal Italia, beberapa ditemukan positif memicu antibodi corona dan beberapa negatif. Meski positif, angkanya belum dapat memenuhi ambang antibodi yang tetapkan Erasmus.

Menurut Erasmus, antibodi corona sendiri terdiri dari IgM atau antibodi penetralisir serta antibodi lainnya yang dikenal sebagai IgG dengan kadar tertentu

Sementara itu peneliti Italia lainnya, Gabriella Sozzi menyebut bahwa pada periode pra-pandemi, virus itu mungkin kurang agresif atau menular. Sehingga rangsangan antibodi menjadi cukup kecil.

Selama ini perdebatan panjang dunia mengenai dari mana asal-usul Covid-19 masih belum membuahkan hasil yang signifikan. Penelitian WHO pada Februari lalu di Wuhan tidak dapat menyimpulkan dari virus ini muncul dan mulai menulari manusia.

Sementara itu, sebuah laporan intelijen Amerika Serikat (AS) menyebut ada dua kemungkinan virus itu menyebar. Pertama yakni skenario kebocoran laboratorium dan yang kedua merupakan sebab alami.

Beberapa tuduhan ini membuat WHO menjadwalkan untuk melakukan penyidikan lanjutan untuk mengaudit laporan di laboratorium Virologi Wuhan, tempat di mana virus ini diduga mulai menular. Di sisi lain, China menolak semua tuduhan ini dan juga menolak langkah WHO.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading