Internasional

Lebanon Makin Chaos! Ekonominya Nyungsep, Calon PM Mundur

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
16 July 2021 08:30
People throw stones during anti-government protest following Tuesday's massive explosion which devastated Beirut, Lebanon, Sunday, Aug. 9. 2020. (AP Photo/Hassan Ammar)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lebanon makin chaos. Harapan pemulihan ekonomi dengan pemerintahan baru makin jauh.

Calon Perdana Menteri (PM) Lebanon Saad Hariri memutuskan untuk mengundurkan diri dari posisi penunjukannya, Kamis (15/7/2021). Hal ini terjadi karena ketidaksepahaman politik.


Mengutip CNBC International, Hariri sebenarnya sudah dapat dipastikan terpilih dan ditunjuk oleh partai-partai koalisinya. Namun ia menyatakan telah menemukan kebuntuan dengan kubu Presiden Michel Aoun.

Di Lebanon, presiden dan perdana menteri dijatah berdasarkan agama tertentu. Kebuntuan membuat dalam sembilan bulan terakhir Hariri dan pemerintahan baru tidak dapat dilantik.

"Jelas kami tidak akan bisa setuju dengan Yang Mulia presiden," kata Hariri kepada wartawan setelah pertemuan dengan Aoun yang berlangsung kurang dari 20 menit.

"Itulah sebabnya saya mohon diri dari formasi pemerintah."

Menurut Hariri, ketidaksepakatan berpusat pada perubahan yang diminta Aoun pada pemilihan kabinetnya yang tidak dapat disetujui oleh Hariri. Langkah Hariri ini semakin menambah runyam kondisi Lebanon yang sedang dilanda krisis ekonomi itu.

Mengutip Trading Economics, ekonomi Lebanon kontraksi alias negatif 20,3% di 2021. Krisis ekonomi yang parah sudah terjadi selama 18 bulan terakhir.

Mata uang lokal bahkan jatuh ke rekor terendah terhadap dolar.Pound Lebanon dijual dengan rekor 19.500 terhadap dolar AS, kurang dari sepersepuluh kurs resminya, di pasar gelap.

Cadangan mata uang asing Lebanon menipis. Inflasi makanan mencapai 400%.

Kini, kekurangan uang di negara itu berdampak pada pasokan obat-obatan dan energi. Apotek melakukan pemogokan karena kekurangan obat yang disebabkan kegagalan membayar importir asing.

Bukan hanya itu, pembangkit listrik utama di negara itu mati total karena kekurangan bahan bakar. Pembangkit listrik Zahrani dan Deir Ammar offline karena tak mendapat akses bahan bakar.

Kapal-kapal yang memuat minyak dan gas menolak untuk menurunkan bahan bakar sebelum ditransfer ke rekening pemiliknya dalam dolar. Padahal, warga sebelumnya hanya menerima listrik dua jam sehari, dijatah selama beberapa dekade.

"Pasokan listrik telah terputus di seluruh wilayah Lebanon tanpa batas," kata seorang warga dikutip BBC International.

Air pun kini tak mudah lagi didapat, di mana warga mendapat penjatahan air. Stasiun pompa ditenagai oleh diesel, dan kekurangan pasokan yang mereka butuhkan untuk berfungsi.

Mengutip mantan penasihat kementerian keuangan negara itu, Henri Chaoul, Lebanon kini seperti berada dalam 'kereta api menuju ke neraka'.

"Yang akan mencapai stasiun akhir," ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading