'Harta Karun' Batu Bara RI Cukup untuk 60 Tahun, Tapi..

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
13 July 2021 13:35
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Cadangan batu bara RI diperkirakan bisa bertahan sampai dengan 60 tahun ke depan. Perkiraan tersebut dengan asumsi jumlah cadangan terbukti sekitar 36 miliar ton dan produksi batu bara rata-rata per tahunnya sekitar 600 juta ton.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia.

Namun untuk memproduksinya, menurutnya ini akan bergantung pada nilai keekonomian, terutama harga batu bara ke depannya.


"Balik lagi ke nilai ekonomi yang terpenting pada harga komoditas, jadi cadangan itu bisa naik dan bisa turun. Tergantung keekonomian, sekarang kita punya 60 tahun cadangan secara umum," ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Selasa (13/07/2021).

Meski memiliki cadangan yang bisa dimanfaatkan setidaknya hingga 60 tahun ke depan, namun menurutnya industri ini bisa tenggelam lebih cepat atau pada akhirnya tidak ada lagi yang memanfaatkan batu bara. Hal ini terutama dikarenakan dunia mulai berlomba-lomba meninggalkan energi fosil, termasuk batu bara, dan menuju energi terbarukan yang dianggap lebih ramah lingkungan sebagai upaya mengurangi emisi karbon.

"Isu perubahan iklim, orang makin mempercepat, jadi 60 tahun gak akan bisa dimanfaatkan juga karena orang percepat net zero emission, berarti kurang dari 60 tahun," ujarnya.

Melihat masa depan industri batu bara, maka menurutnya perusahaan pemegang izin tambang batu bara akan memanfaatkan cadangan dengan seoptimal mungkin, terlebih dengan harga yang sedang tinggi saat ini.

"Gak jor-joran, pengusaha dapat izin ya manfaatkan secara maksimal izin mereka dengan konsesi dan cadangan yang ada. Ini izin diberikan dari pemerintah," ungkapnya.

Seperti diketahui, Indonesia menduduki peringkat ketiga dunia untuk produksi batu bara terbesar, setelah China dan India. Meski masuk top 3 produsen batu bara dunia, namun Indonesia bukanlah pemilik cadangan terbukti batu bara terbesar di dunia. Bahkan, masuk lima besar saja tidak.

Berdasarkan data BP Statistical Review 2021, negara yang memiliki cadangan batu bara terbesar di dunia yaitu Amerika Serikat dengan jumlah 248,94 miliar ton. Itu merupakan data cadangan terbukti yang tercatat hingga akhir 2020.

Setelah Amerika Serikat, posisi kedua diduduki oleh Rusia dengan jumlah cadangan terbukti batu bara tercatat mencapai 162,17 miliar ton.

Indonesia bahkan berada di bawah Jerman untuk jumlah cadangan terbukti batu bara yakni 34,87 miliar ton, sementara Jerman mencapai 35,9 miliar ton hingga akhir 2020.

Berikut sejumlah negara dengan cadangan terbukti batu bara terbesar hingga akhir 2020, seperti dikutip dari BP Statistical Review 2021:

1. Amerika Serikat: 248,94 miliar ton.
2. Rusia: 162,17 miliar ton.
3. Australia: 150,23 miliar ton.
4. China: 143,19 miliar ton.
5. India: 111,05 miliar ton.
6. Jerman: 35,9 miliar ton.
7. Indonesia: 34,87 miliar ton.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading