Proyek Bahan Baku Baterai RI Jadi Ancaman Dunia, kok Bisa?

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
05 July 2021 09:50
Tambang Nikel di Morowali, Sulteng, dok PAM Mineral

Jakarta, CNBC Indonesia - Saat dunia berbondong-bondong melakukan transisi energi dari fosil ke energi terbarukan, dunia diramal akan mengalami kekurangan pasokan mineral seperti seperti nikel, lithium, dan kobalt.

Pemakaian kendaraan listrik terus digencarkan dunia sehingga permintaan untuk baterai kendaraan listrik diprediksi akan melonjak. Sejumlah analis menilai peningkatan kebutuhan baterai ini berpotensi membuat kekurangan pasokan bahan baku mineral.

Melansir Reuters, harga lithium yang tinggi telah gagal memacu adanya investasi kapasitas baru karena harga kontrak jangka panjangnya lebih rendah, sementara masalah pasokan kobalt adalah sebagian besar merupakan produk sampingan dari tembaga, ini berarti keputusan investasi didasarkan pada harga tembaga.


Selain itu, kebutuhan nikel bakal dipenuhi dari proyek-proyek baru yang akan segera hadir di Indonesia dan memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. Dengan demikian, kemungkinan kekurangan pasokan secara signifikan baru akan terjadi menjelang akhir dekade ini.

Berikut sejumlah komoditas mineral yang berpotensi kekurangan pasokan.

Lithium

Baterai kendaraan listrik dapat menggunakan lithium karbonat atau lithium hidroksida, tetapi industri biasanya berbicara tentang lithium karbonat setara (LCE, lithium carbonate equivalent) yang mengandung keduanya.

Berdasarkan Benchmark Mineral Intelligence (BMI), dikutip dari Reuters, harga LCE di pasar spot telah naik di atas US$ 12.000 per ton atau setara Rp 172 juta (kurs Rp 14.300/US$), dua kali lipat dari level yang terlihat pada November tahun lalu dan tertinggi sejak Januari 2019.

Level tersebut cukup tinggi untuk mendorong investasi meningkatkan kapasitas, tetapi kontrak tahunan atau jangka panjang yang ditandatangani pada kuartal terakhir tahun 2020 lalu, dengan harga yang lebih rendah, menjadi penghalang.

George Miller dari BMI memperkirakan defisit LCE sebesar 25.000 ton tahun ini dan memperkirakan komoditas mineral ini akan mengalami defisit akut mulai tahun 2022.

"Kecuali kita melihat investasi yang signifikan dan segera ke dalam deposit lithium besar yang layak secara komersial, kekurangan ini akan meluas hingga akhir dekade ini," kata Miller, dikutip Reuters, Jumat (02/07/2021).

Analis Roskill Information Services memperkirakan permintaan setara litium karbonat akan meningkat di atas 2 juta ton pada 2030, meningkat lebih dari 4,5 kali lipat dari 2020.

Kandungan kobalt dalam baterai juga telah berkurang secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir, tetapi penjualan EV (baterai listrik) terus melonjak, sehingga permintaan untuk logam minor diperkirakan akan meningkat secara keseluruhan.

Analis di Roskill memperkirakan permintaan kobalt akan meningkat menjadi 270.000 ton pada 2030 dari 141.000 ton tahun lalu.

Proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) di Indonesia disebut juga akan membantu menutupi sebagian dari kekurangan tersebut. Tetapi masalahnya, kobalt itu sebagian besar merupakan produk sampingan.

"Sulit untuk berinvestasi dalam kapasitas spesifik kobalt karena merupakan produk sampingan. Tidak ada mekanisme di mana pasokan dapat bereaksi terhadap permintaan dan harga," kata George Heppel, konsultan di CRU International.

"Jika kita melihat ke pertengahan 2020-an, kita benar-benar bisa melakukannya dengan Katanga (tambang) lain," imbuhnya.

Glencore mengharapkan tambang Katanga di Republik Demokratik Kongo memproduksi 30.000 ton kobalt tahun ini.

CRU memperkirakan permintaan kobalt dari kendaraan listrik mencapai lebih dari 120.000 ton, atau hampir 45% dari total, pada tahun 2025 dibandingkan dengan hampir 39.000 ton, atau 27%, pada tahun 2020.

NEXT: Nasib Pasokan Nikel?

Nasib Pasokan Nikel
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading