Lonjakan Covid Taiwan Pengaruhi Hubungan Dunia Internasional

News - Chandra G, CNBC Indonesia
22 June 2021 11:12
People wear face masks to protect against the spread of the coronavirus after the COVID-19 alert raise to level 3 in Taipei, Taiwan, Saturday, May 15, 2021. Taiwan, which has had enviable success in containing COVID-19, imposed new restrictions in its capital city on Saturday as it battled its worst outbreak since the pandemic began. (AP Photo/Chiang Ying-ying)

Jakarta, CNBC Indonesia - Melonjaknya angka kasus positif Covid 19 di Taiwan beberapa hari terakhir dianggap membawa pengaruh pada hubungan politik luar negeri Taiwan.

Pasalnya, lonjakan Covid 19 dianggap menjadi pukulan telak bagi Taiwan yang justru selama ini dikenal cukup berhasil mengendalikan pamdemi.

Catatan terakhir dari Pusat Komando Epidemi Taiwan melaporkan 251 kasus baru Covid-19 dan 26 kematian yang memaksa Presiden Taiwan Tsai Ing Wen meminta maaf kepada semua rakyatnya yang terkena dampak wabah tersebut.

"Setidaknya lonjakan kasus ini membuat reputasi Taiwan melemah ketika berbicara soal pengendalian Covid di dalam hubungan luar negerinya dengan negara-negara lain apalagi selama ini Taiwan cukup aktif melakukan lobby Internasional dan membangun citra dalam rangka mendapatkan simpati dunia internasional secara politik," ungkap Analisis Hubungan Internasional Alpha Research Database Ferdy Hasiman dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (20/6).

Dijelaskan Ferdy, Taiwan ketika awal Covid muncul dianggap cukup mampu mengendalikan Pandemi bahkan karena reputasi itu banyak membangun kemitraan dengan negara-negara lain dalam rangka memberikan bantuan.

"Tetapi tentu saja ketika kasus di dalam negeri meledak seperti sekarang apalagi ada pengakuan dari banyak ilmuwan di Taiwan karena aspek penanganan yang lengah dan kedisiplinan masyarakat yang lemah, maka tentu saja prestasi itu dengan sendirinya hilang di mata dunia internasional," lanjutnya.

Dijelaskan Ferdy, saat ini penanganan kasus Covid-19 merupakan pertaruhan wibawa tiap-tiap Negara, di mata internasional termasuk Taiwan. Menjadi makin penting masalahnya karena Taiwan saat ini sedang aktif-aktifnya membangun diplomasi di dunia internasional dalam rangka kepentingan politik dia sebagai negara yang hendak memisahkan diri dari Tiongkok.

"Artinya ini tentu sangat memukul wajah para pemimpin Taiwan. Maka wajar ketika Presiden Taiwan beberapa waktu lalu meminta maaf secara resmi. Bukan hanya itu, bukan tidak mungkin dunia internasional punya asumsi tertentu ketika membangun kemitraan mereka dengan Taiwan, utamanya dalam penanganan Covid 19," jelasnya.

"Intinya adalah bagaimana Taiwan bisa diandalkan, sementara situasi dia di dalam negeri sendiri sebenarnya saat ini sedang keteteran juga? Di dalam hubungan internasional, aspek penanganan COVID saat ini menyangkut juga kapasitas suatu Negara," tegasnya.

Diketahui dari sejumah laporan media internasional bahwa Taiwan merupakan negara pertama yang melarang kunjungan orang asing tidak lama setelah Tiongkok melaporkan munculnya virus SARS-CoV-2, dan pembatasan ketat di perbatasan masih berlaku di negara itu. Namun sialnya di tingkat lokal, masyarakat mulai berpuas diri - seperti yang dilakukan oleh pemerintah Taiwan.
Taiwan misalnya telah menghentikan tes agresif bagi warga terkait Covid, bahkan bagi mereka yang mengalami demam - yang menjadi gejala umum virus Covid -19.

"Ada asumsi umum, bahkan bagi orang yang menunjukkan gejala, tidak mungkin terpapar Covid-19," kata Associate Professor Lin Hsien-ho dari National Taiwan University, seperti disampaikannya kepada BBC belum lama ini.

Bukan hanya itu dari aspek disiplin masyarakat Taiwan juga sangat lemah dengan fakta bahwa kegiatan masyarakat seper bernyanyi, minum, acap melakukan kontak dalam ruangan tanpa pengaturan ventilasi. Dan kejadian seperti ini bukan hanya di satu kedai teh, tetapi juga banyak di kedai lainnya di jalan yang sama yang membuat penyebaran menjadi makin cepat.

"Artinya ada persoalan disiplin masyarakat juga yang rendah," sambungnya.

Bahkan kesaksian Profesor Chen Chien-jen, epidemiologi dan mantan Wakil Presiden Taiwan, mengatakan bahwa banyak orang yang dites positif tidak mau menyatakan mereka telah mengunjungi tempat hiburan dewasa seperti itu sehingga membuat pelacakan kontak menjadi lebih sulit.

Termasuk Taiwan yang dianggap gagal karena membiarkan tempat hiburan dibuka padahal tempat-tempat tersebut menjadi sarang penyebaran virus yang sangat besar. Bahkan dokter-dokter tidak menganggapnya serius, rumah sakit juga tidak waspada, untuk melakukan melakukan banyak pelacakan kontak.

"Jadi sebenarnya dampak kasus ini buat Taiwan tidak menggembirakan. DI aspek diplomasi internasional ini tentu jadi catatan yang tidak baik dan membuat para pemimpin Taiwan harus bekerja lebih keras lagi untuk mengembalikan kepercayaan diri mereka," pungkasnya.

Diketahui hampir satu bulan terakahir wabah Covid-19 di Taiwan memasuki periode terburuknya. Mulai 10 Mei kasus Covid-19 Taiwan melonjak dari satu ke tiga digit dalam hitungan hari. Sebagian besar dari total 411 kematian akibat virus corona di Taiwan disebabkan oleh lonjakan kasus baru-baru ini.



[Gambas:Video CNBC]

(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading