Harga Batu Bara to the Moon, Penerimaan Negara Melonjak 50%

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
21 June 2021 16:20
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara terus meroket, tak tanggung-tanggung kini sudah melesat di atas US$ 120 per ton. Harga kontrak batu bara termal ICE Newcastle ditutup di US$ 123,5/ton pada akhir pekan lalu. Sebelum terkoreksi, di hari Kamis (17/6/2021), batu bara berada di US$ 124,25/ton, yang merupakan level tertinggi sejak pertengahan 2011.

Sepanjang tahun berjalan 2021, harga batu bara sudah melesat signifikan. Bahkan, harga si batu hitam ini sudah terapresiasi 51% sejak awal tahun.

Kenaikan harga batu bara ini tentunya mendatangkan keuntungan bagi Indonesia sebagai negara produsen dan pengekspor batu bara. Pemerintah bahkan menyebut kenaikan harga batu bara ini telah berdampak pada lonjakan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor pertambangan.


Tak main-main, lonjakan PNBP sektor pertambangan mineral dan batu bara ini juga disebut mencapai 50% dibandingkan dengan tahun lalu.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Bina Program Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Ditjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Muhammad Wafid.

Wafid menyampaikan, PNBP per tanggal 18 Juni 2021 mencapai sebesar Rp 24,78 triliun atau 63,38% dari target setahun Rp 39,1 triliun. Bila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, PNBP sektor pertambangan ini mengalami kenaikan tepatnya sebesar 51,46%, di mana per 19 Juni 2020 PNBP dari sektor tambang hanya mencapai sebesar Rp 16,36 triliun. Realisasi PNBP hingga Juni 2020 tersebut hanya sebesar 52,09% dari target penerimaan pada 2020 Rp 31,4 triliun.

"Jadi, dibandingkan dengan periode yang sama dengan tahun lalu, terdapat kenaikan PNBP sebesar kurang lebih Rp 8 triliun atau naik 50%," jelasnya kepada CNBC Indonesia, Senin (21/06/2021).

Dia mengatakan, PNBP tersebut berupa royalti, sewa tanah (deadrent), penjualan hasil tambang, dan lainnya. Adapun jumlah tersebut gabungan antara penerimaan dari sektor pertambangan mineral dan batu bara.

Untuk kontribusi penerimaan batu bara, menurutnya mencapai sekitar 75%-80% dari total PNBP tersebut.

Dia mengatakan, bila kenaikan harga batu bara ini terus berlangsung, maka bukan tak mungkin penerimaan negara pada tahun ini akan melampaui target.

"Kenaikan harga batu bara secara otomatis akan menaikkan hak pemerintah berupa PNBP. Insyaallah bisa > 100% (melebihi target di akhir tahun). Batu baranya kira-kira 75%-80% dari total PNBP," jelasnya.

Tahun ini pemerintah Indonesia menargetkan produksi batu bara mencapai 625 juta ton, naik 75 juta ton dari target awal 550 juta ton. Kenaikan harga menjadi salah satu pertimbangan pemerintah menaikkan target batu bara tahun ini.

Berdasarkan data Minerba One Data Indonesia (MODI) per 21 Juni 2021, produksi batu bara nasional mencapai 267,01 juta ton atau sekitar 43% dari target produksi setahun.

Meski mendapat gempuran sentimen negatif di sana-sini harga batu bara masih tetap kuat. Kendati minggu lalu mengalami koreksi 0,4%, tetapi harga batu bara masih berada di rentang level tertinggi di satu dekade terakhir.

Di saat berbagai sentimen negatif menggempur seperti reformasi kebijakan energi di berbagai negara maju yang berencana untuk meninggalkan bahan bakar fosil.

Ditambah dengan adanya kecenderungan pengetatan moneter oleh bank sentral AS di tahun-tahun mendatang yang berarti mengerem laju pertumbuhan ekonomi sehingga berdampak pada permintaan terhadap komoditas, harga batu bara tetap solid.

Hal ini tak terlepas dari dinamika di pasar global. Penguatan harga batu bara didukung dengan prospek permintaannya yang membaik di tengah ketatnya pasokan dan perubahan lanskap pasar akibat tensi geopolitik.

Salah satu yang masih menjadi perbincangan hangat adalah hubungan antara China dan Australia yang tak kunjung membaik.

China banyak mengimpor batu bara kokas yang digunakan untuk pembuatan baja. Namun hubungannya dengan Negeri Kangguru yang panas membuat Negeri Panda lebih memilih memboikot impor batu bara metalurgi dari India. China juga beralih ke pemasok lain seperti Amerika Serikat (AS) dan Kanada.

Meskipun China harus membayar lebih mahal, tetapi kebijakan tersebut masih berlaku sampai sekarang. China tak terima atas desakan Australia untuk mengusut tuntas asal-usul Covid-19 seolah memojokkan China sebagai biang kerok pandemi global yang terjadi sampai saat ini.

Argus melaporkan, ekspor batu bara kokas AS dan Kanada ke China naik pada kuartal pertama tahun 2021. Ekspor AS ke China naik lebih dari lima kali lipat menjadi 2,11 juta ton, sementara Kanada naik 51% menjadi 2,3 juta ton.

Meskipun cenderung dijegal di sana sini, batu bara masih menjadi energi yang termasuk murah dan terjangkau. Di sisi lain pasar batu bara di kawasan Asia Pasifik tetap kuat didukung dengan kenaikan permintaan negara-negara konsumen seperti China, Jepang dan Korea Selatan.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Komponen Lokal Tambang Batu Bara Masih Minim, Kok Bisa?


(wia)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading