Kapan Covid-19 Kelar? Maaf, Kayaknya Masih Lama...

News - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
11 June 2021 16:00
Foto terbaik AP 2020, Mengenakan masker dan sarung tangan plastik untuk mencegah penyebaran virus corona, anak perempuan mengangkat tangan saat di Havana, Kuba. (AP/Ramon Espinosa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Organisasi kesehatan Pan Amerika (PAHO) menyebut jika kasus Covid-19 masih terus meningkat dengan laju saat ini, maka butuh waktu bertahun-tahun untuk menjinakkan pandemi. Itu berarti ekonomi global masih dalam ancaman besar untuk pulih. Konsekuensinya kesenjangan sosial dan ekonomi akan terus melebar. 

Di regional Pan Amerika infeksi Covid-19 meningkat 1,2 juta kasus dan angka kematian bertambah 34 ribu jiwa minggu lalu. Empat dari Lima negara dengan angka kematian tertinggi ada di Amerika. 

PAHO mencatat baru ada 10% dari total populasi di Amerika Latin dan Kepulauan Karibia yang sudah divaksinasi penuh. Masih sangat kecil dibandingkan dengan target untuk mencapai herd immunity di kisaran 60-70% tentunya. Sebuah kondisi yang miris. 


Beberapa negara maju seperti Amerika Serikat (AS), Spanyol dan Kanada berjanji akan mendonasikan jutaan dosis vaksin. Namun tetap saja kurang. Negara-negara di kawasan Amerika Latin masih butuh lebih banyak dosis lagi. 

CNBC Indonesia mencatat setidaknya sudah 841 juta dosis vaksin sudah disuntikkan secara global pada pertengahan April.  Jumlahnya terus meningkat setiap harinya. Berdasarkan data our world in data, sampai saat ini baru 6,2% populasi manusia di bumi yang sudah divaksinasi secara penuh. Padahal pandemi sudah terjadi satu tahun. 

Namun menurut laporan WHO, sebanyak 87% dari total vaksin yang sudah disuntikkan dilakukan di negara-negara maju. 

Sementara itu negara dengan pendapatan rendah hanya menerima 0,2% dari pasokan vaksin jika mengacu pada keterangan WHO belum lama ini. Rata-rata, 1 dari 4 orang di negara berpenghasilan tinggi telah menerima vaksin virus corona, dibandingkan dengan hanya 1 di lebih dari 500 orang di negara berpenghasilan rendah.

Apabila dicermati, negara yang paling banyak menyuntikkan vaksinnya adalah negara dengan populasi penduduk yang besar. Amerika Serikat (AS), China dan India masing-masing telah menyuntikkan lebih dari 100 juta dosis vaksin.

Ketiga negara tersebut merupakan negara dengan ukuran populasi terbesar di dunia. Jika ditotal maka jumlah populasi ketiganya mencapai 3 miliar orang sendiri. AS dan India juga menyumbang kasus kumulatif Covid-19 secara global.

Keduanya menyumbang lebih dari 35 juta kasus infeksi dari total 139 juta kasus yang terdata oleh John Hopkins University CSSE per hari ini.

Di peringkat keempat ada Inggris dengan total vaksinasi mencapai 40 juta dosis. Walaupun sudah resmi keluar dari Uni Eropa, tetap Inggris menjadi negara yang paling agresif dalam menyuntikkan vaksin di Benua Biru, barulah disusul Jerman dan Prancis.

Tedros Adhanom Ghebreyesus selaku bos WHO mengatakan bahwa ada kekurangan pasokan vaksin COVAX sebagai aliansi global yang bertujuan untuk menyediakan vaksin virus Corona bagi negara-negara miskin mengalami keterbatasan.

Kondisi ini semakin diperburuk dengan lonjakan kasus Covid-19 di India. Meskipun secara gradual India mulai melonggarkan lockdown, tetapi Serum Institute India sebagai produsen untuk aliansi mengatakan tak bakal mengekspor pasokan vaksin hingga akhir tahun ini. Artinya sampai akhir tahun nanti masih banyak negara berkembang dan miskin yang belum mendapat vaksin Covid-19 secara cukup.

Kebutuhan vaksin yang tinggi dan tidak diimbangi dengan pasokan yang mencukupi membuat vaksin menjadi barang yang langka. Sebagai barang yang diperebutkan, negara-negara kaya memiliki privilege lebih untuk mengamankan sejumlah pasokannya.

Inilah salah satu bentuk ketimpangan yang terjadi dalam hal akses terhadap kesehatan. Apabila hal ini terjadi berlarut-larut, maka prospek pemulihan ekonomi semakin tak merata dan jurang ketimpangan bisa semakin menganga.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading