Tim Sri Mulyani Pantau AS, Siapkan Antisipasi Taper Tantrum!

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
04 June 2021 18:00
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu menanggap perkembangan global terus menjadi perhatian pemerintah. Termasuk, peningkatan inflasi di Amerika Serikat (AS) yang bisa berujung pada kenaikan tingkat suku bunga dari Bank Sentral AS The Fed.

Febrio mengungkapkan bahwa kenaikan inflasi di AS saat ini sudah mulai menimbulkan kekhawatiran para pelaku ekonomi Banyak yang beranggapan Bank Sentral AS mulai memikirkan kenaikan suku bunga acuan, seiring pulihnya ekonomi negara adidaya tersebut.

"Inflasi di AS ini terus menguat dan ekspektasi inflasi ini yang kita waspadai dapat dan sudah mulai menunjukan kekhawatiran di pasar," ujar Febrio dalam video conference, Jumat (4/6/2021).


"Meski belakangan ini mulai membaik bahwa dikhawatirkan ekspektasi inflasi ini akan mendorong The Fed untuk mulai menaikkan tingkat suku bunga. Nah ini risiko yang harus diwaspadai," kata Febrio melanjutkan.

Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Hidayat Amir juga mengatakan bahwa, fenomena taper tantrum seperti yang terjadi pada 2013 menjadi pengalaman penting untuk pihaknya menyiapkan antisipasi.

"Yang paling baik saat ini adalah menciptakan kebijakan yang terukur, forward looking, baik signaling ke publik. Sinyal-sinyalnya disampaikan. Bentuk sinyalnya menyiapkan KEM PPKF 2022, yang sedang terjadi dan proyeksi yang akan terjadi, juga respon kebijakannya," jelas Hidayat dalam kesempatan yang sama.

Melihat tren aktivitas ekonomi saat ini, kata Hidayat kuartal II-2021 diperkirakan sudah bergerak ke arah pertumbuhan ekonomi yang positif, walaupun masih ada ketidakpastian.

"Ini sudah tiga minggu, mudah-mudahan gak ada sesuatu yang luar biasa. Kalau ada kejadian luar biasa, cerita bisa berubah. Ekonomi akan terus kita jalankan dan reform akan kita lakukan dengan baik," tuturnya.

Berikut Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok - Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) 2022:
- Pertumbuhan ekonomi 5,2%-5,8%
- Inflasi 2%-4%
- Tingkat bunga SUN 10 tahun 6,32 - 7,27%
- Rupiah Rp 13.900/US$ - Rp 15.000/US$
- ICP US$ 55 - US$ 65 per barrel
- Lifting minyak bumi 686 ribu barel per hari - 726 ribu barel per hari
- Lifting gas 1,03 juta barel setara minyak per hari - 1.1 juta barel setara minyak per hari.

"Ini masih akan kita bahas, dalam proses pembahasan ini. Defisit APBN 2022 yang ditetapkan 4,51% sampai 4,85% itu rentang yang realistik," ujar Amir lagi.


[Gambas:Video CNBC]

(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading