Internasional

Ngeri Biden! Bujet Militer AS Tembus Rp10.000 T, Mau Perang?

News - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
02 June 2021 06:20
Demonstran menyambut anggota Pengawal Nasional di Amerika Serikat. AP/Chris Pizzello

Jakarta, CNBC Indonesia - Ada yang menarik dari pengajuan Anggaran Pertahanan Presiden AS Joe Biden. Untuk tahun fiskal 2022, total anggaran pertahanan yang diajukan mencapai US$ 715 miliar atau setara dengan Rp 10.224 triliun (kurs Rp 14.300/US$) alias setara Rp 10,22 kuadriliun.

Biden juga memberi kejutan. Dari total anggaran, Biden menaikkan bujet menjadi US$ 5,5 miliar (Rp 78,6 triliun) untuk litbang dan memangkas anggaran pos teknologi baru senilai US$ 8,8 miliar (Rp 126 triliun).

Upaya fokus Biden di bidang litbang ini menandakan adanya fokus baru militer AS pada teknologi baru dalam 'menghadapi' China. Ini mengindikasikan program jangka panjang.


Wakil Menteri Pertahanan AS Kathleen Hicks mengatakan dalam konferensi pers bahwa mengurangi anggaran peralatan lama akan mempercepat upaya AS mendorong modernisasi departemen.

"[Anggaran tersebut] mengurangi ketergantungan kami pada sistem yang rentan yang tidak lagi sesuai untuk potensi ancaman tingkat lanjut saat ini, atau terlalu mahal untuk dipertahankan," kata Hicks, dilansir breakingdefense, Selasa (1/6/2021).

"Secara kritis, kami mengalokasikan kembali sumber daya untuk mendanai litbang dalam teknologi canggih seperti mikro-elektronik. Ini akan memberikan dasar untuk menerjunkan berbagai kemampuan, seperti rudal hipersonik, kecerdasan buatan, dan 5G," katanya.

Menurut Menteri Pertahanan, Lloyd Austin, pengajuan ini menjadi permintaan terbesar yang pernah ada untuk pendanaan penelitian, pengembangan, pengujian dan evaluasi. Pihak Gedung Putih juga telah mengusulkan US$112 miliar (Rp 1.602 triliun) di pos ini, naik 5%, sebagaimana dilansir defensenews.

Sementara itu, bujet untuk pengadaan pembelian baru turun hampir 6% menjadi US$ 133,6 miliar (Rp 1.911 triliun).

Anggaran tersebut termasuk adanya reclaim senilai US$ 2,4 miliar atau Rp 34 triliun dalam "reformasi pertahanan" dan senilai US$ 2,8 miliar atau Rp 40 triliun divestasi dengan pensiunnya pesawat taktis A-10, F-15 dan F-16 dan penonaktifan kapal Angkatan Laut untuk memasukkan empat kapal tempur pesisir dan dua kapal penjelajah.

Adapula anggaran US$ 5,1 miliar (Rp 72,9 triliun) dengan nama Pacific Deterrence Initiative.

Dari jumlah ini, sebanyak US$ 4,9 miliar (Rp 70,1 triliun) dialokasikan untuk latihan bersama kekuatan mematikan dan US$ 150 juta diperuntukkan bagi latihan, eksperimen, dan inovasi. Sementara sisanya US$ 23 juta atau Rp 329 miliar dialokasikan untuk postur dan desain kekuatan militer.

Di sisi lain, akan ada peningkatan investasi, di Tomahawk dan Standard Missile 6.

Wakil Menteri Pertahanan AS, Kathleen Hicks mengatakan anggaran tersebut memperlihatkan sejumlah pilihan sulit, karena negara itu harus mengurangi ketergantungan pada sistem yang tidak cocok lagi di kondisi global saat ini dan terlalu mahal untuk dipertahankan.

"Secara kritis kami mengalokasikan kembali sumber daya untuk mendanai litbang khususnya teknologi canggih. Sepertu mikroelektronika, lalu rudal hipersonik, artificial intelligence, dan 5G," kata Hicks.

Secara rinci dari total anggaran pertahanan US$ 715 miliar, anggaran tertinggi US$ 174 miliar (Rp 2.488 triliun) dialokasikan untuk angkatan darat (Army). Jumlah tersebut turun US$ 1,5 miliar dari yang ditetapkan di 2021.

Lalu sebesar US$ 207 miliar (Rp 2.489 triliun) untuk angkatan laut (Navy), jumlahnya naik US$ 4,6 miliar (Rp 65,8 triliun).

Kemudian sebesar US$ 204 miliar (Rp 2.918 triliun) untuk angkatan udara (Air Force), naik sebesar US$ 8,8 miliar (Rp 125,8 triliun).

Sementara itu, di dalam anggaran angkatan udara yakni angkatan antariksa dialokasikan sebanyak US$ 17,5 miliar (Rp 250,3 triliun) naik dari sebelumnya US$ 15,4 miliar atau Rp 220,3 triliun.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading