Covid-19 di Malaysia Lebih Parah dari India, Ini Datanya

News - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
26 May 2021 16:55
A woman wearing a face mask walks in front of the Twin Towers during the first day of third Movement Control Order (MCO) in Kuala Lumpur, Malaysia, Friday, May 7, 2021. Kuala Lumpur and few other cities will be placed under the Movement Control Order (MCO) as the number of COVID-19 cases and clusters continue to rise. (AP Photo/Vincent Thian)

Jakarta, CNBC Indonesia- Kasus Covid-19 harian Malaysia meningkat pesat dan telah melampaui tren India ketika kritis, berdasarkan situs statistik Our World in Data. India telah mengalami gelombang kedua yang menghancurkan sejak April dan memiliki beban kasus Covid terbesar kedua di dunia.

Dilansir dari CNBC International, infeksi Covid-19 secara harian di Malaysia dalam satu pekan terakhir telah melampaui India. Pada Selasa, Malaysia melaporkan 205,1 kasus per 1 juta penduduk dalam satu pekan, sementara India 150,4 per 1 juta penduduk. Populasi Malaysia yang berjumlah sekitar 32 juta jauh lebih kecil dari 1,4 miliar di India.

Secara umum, jumlah kasus Covid-19 sebenarnya lebih tinggi daripada kasus yang dilaporkan di seluruh dunia, terutama karena kurangnya pengujian. Di India, beberapa penelitian menemukan bahwa kasus kemungkinan besar tidak dilaporkan.


Namun, itu bukan pertama kalinya Malaysia mengalahkan India. Our World in Data menunjukkan bahwa kasus harian Malaysia per satu juta orang juga lebih tinggi daripada di India antara 15 November tahun lalu dan 27 Maret 2021.

Negeri Jiran ini memang tengah berjuang melawan lonjakan kasus virus corona sejak beberapa bulan terakhir di 2020. Sejak itu, pemerintah telah memperketat pembatasan beberapa kali, meski tidak melakukan lockdown penuh.

Negara itu melaporkan peningkatan tertinggi dari 7.478 kasus virus korona pada hari Rabu, menjadikan infeksi kumulatif menjadi lebih dari 533.300, berdasarkan data kementerian kesehatan. Lebih dari 2.300 orang telah meninggal dan 700 orang yang terinfeksi berada di unit perawatan intensif.

Dr Noor Hisham Abdullah, direktur jenderal kesehatan Malaysia, mengatakan dalamcuitan Twitter hari Selasa bahwa kasus Covid-19 harian negara itu "mengikuti tren eksponensial" dan dapat memicu "lonjakan vertikal."

Dia bahkan memperingatkan agar Malaysia bersiap menghadapi situasi terburuk dan mendesak orang untuk tinggal di rumah untuk memutus rantai penularan.

Peningkatan pesat terjadi ketika Malaysia - dan banyak negara berkembang di seluruh dunia - berjuang untuk mengamankan pasokan vaksin Covid.

Malaysia telah menyetujui penggunaan vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh Pfizer-BioNTech, Oxford University-AstraZeneca, dan perusahaan bioteknologi Cina, Sinovac. Pemerintah mengatakan akan memvaksinasi 80% populasi hingga akhir tahun, tetapi hanya sekitar 5% yang telah menerima setidaknya satu dosis sejauh ini.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading