Internasional

Bukan Raja Salman, Ini Sosok Berjasa di Gencatan Senjata Gaza

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
21 May 2021 08:00
Demo aksi bela Palestina di depan Kedubes Amerika Serikat, Jakarta, Selasa, 18/5. Penyerangan yang dilakukan militer Israel terhadap warga Palestina menuai kecaman dari berbagai pihak termasuk di Jakarta. Pantauan CNBC Indonesia ratusan orang bakal melakukan aksi unjuk rasa mendukung Palestina di depan Kedutaan Besar Amerika, Gambir, Jakarta Pusat. Demonstran menuntut agar pemerintah segera mengambil sikap tegas dalam penyerangan ini. Dukungan penuh harus diberikan kepada Palestina. Pihaknya juga akan menyatakan dukungan kepada bangsa Palestina untuk membentuk Negara Palestina referendum yang diikuti oleh seluruh rakyat Palestina asli yang terdiri dari umat Muslim, Yahudi atau Kristen. Pihaknya juga mendesak agar negara arab mendukung Palestina. Bahkan, jika perlu, segera memutuskan hubungan diplomasi dengan Israel.  (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Israel dan dua kelompok utama Palestina di jalur Gaza, Hamas dan Jihad Islam menyetujui gencatan senjata, Kamis (20/5/201) malam. Ini menjadi momen penting mengakhiri pertempuran selama 11 hari terakhir.

Melansir AFP, kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memberikan pernyataan resmi. Menurutnya gencatan senjata tanpa syarat akan diikuti Israel.


Hal senada juga ditegaskan Hamas dan Jihad Islam. Mereka menegaskan, tak ada lagi serangan mulai Jumat (21/5/2021) pukul 2.00 pagi waktu setempat.

Gencatan senjata terjadi berkat mediasi Mesir. Dalam pernyataan resmi yang dimuat TASS, pemerintah Mesir menyebut mengajukan proposal gencatan senjata dan akan berangkat ke Tel Aviv guna membahas masalah keamanan di sana.

Kontak dengan pihak Palestina juga dilakukan. Meski tak dijadwalkan kunjungan khusus ke Gaza. Proposal Mesir dikatakan disetujui AS dan Uni Eropa serta faksi di Palestina.

Mesir disebut memang punya pengaruh ke kedua kubu yang bertikai. Apalagi Mesir berada berdekatan langsung dengan Gaza, khususnya wilayah Rafah, yang tak bisa dikendalikan Israel.

"Di wilayah di mana negara di kawasan sedang memperluas hubungan mereka dengan Israel, Mesir memiliki kepentingan pribadi untuk memanfaatkan kedekatan geografisnya dengan Gaza guna meningkatkan kekuatan diplomatiknya," kata seorang analisis di International Crisis Group, Tariq Baconi.

"Ini merupakan sebuah kesempatan mengatakan tidak hanya kepada AS tapi pihak regional lainnya bahwa Mesir penting. Itu adalah pemain diplomatik yang diperlukan dan bahwa gencatan senjata akan dilakukan di Kairo," kata Michael Hanna dari Century Foundation di New York.

Sebelumnya, Presiden Mesir, Abdel Fattah al-Sisi, juga dikabarkan menginstruksikan pihak berwenang membuka penyeberangan yang memungkinkan warga Gaza yang terluka dirawat di rumah sakit Negeri Firaun. Jalur itu juga bisa digunakan untuk mengirimkan bantuan.

Pertempuran di Gaza terjadi pasca bentrokan warga Palestina dan polisi Israel di akhir Ramadan. Ini dipicu keputusan pengadilan Israel untuk menyita rumah warga Palestina di lingkungan Sheikh Jarrah, yang telah tinggal di sana selama lebih dari 50 tahun untuk mendukung pemukim Yahudi.

Ini berujung pula ke larangan salat di Masjid Al-Aqsa. Polisi Israel dilaporkan membubarkan paksa jamaah yang melakukan ibadah.

Hal tersebut membuat Hamas, meluncurkan serangan ke Israel. Negeri Yahudi kemudian membalasnya dengan serangan udara yang memakan korban ratusan jiwa melayang.

Setidaknya dalam 11 hari peperangan, 232 warga Palestina tewas dan 1,900 orang terluka. Di Israel ada 12 nyawa melayang.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jangan Kudet, Ini 5 Fakta di Balik Terusan Suez Macet Total


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading