Toyota Avanza Sudah Banyak 'Pembunuhnya', Tanda Apakah Ini?

News - Tirta, CNBC Indonesia
11 May 2021 17:25
Toyota New Avanza. CNBC Indonesia/Andrean Kristianto

Jakarta, CNBC Indonesia - Penjualan mobil terus bergeliat ditopang oleh tren penurunan suku bunga kredit, pelonggaran kebijakan kredit, insentif perpajakan, keyakinan konsumen yang membaik hingga fenomena low based effect.

Asosiasi kendaraan roda empat (Gaikindo) melaporkan penjualan mobil dari pabrikan ke dealer mencapai hampir 79 ribu unit pada April atau turun 7% dari bulan sebelumnya. Namun jika dibandingkan dengan tahun April tahun lalu kenaikannya mencapai 900% lebih karena jumlah mobil yang dikirim dari pabrik anjlok.

Namun jika dilihat dari sisi penjualan ritel artinya dari dealer ke konsumen akhir terjadi peningkatan penjualan secara bulanan mencapai 2,6%. Secara tahunan penjualan naik 227%. Total mobil yang terjual bulan lalu ke konsumen akhir tercatat mencapai hampir 79,5 ribu unit.


Selama empat bulan pertama tahun 2021, total penjualan wholesale dan ritel masing-masing naik 8,7% dan 5,9% secara kumulatif. Mobil yang terjual mencapai hampir 258 ribu unit untuk ritel dan nyaris 266 ribu unit untuk wholesale. 

Seiring dengan pemangkasan suku bunga acuan dan transmisi kebijakan moneter yang terus berjalan, suku bunga kredit juga terus mengalami penurunan meski belum seagresif penurunan suku bunga acuan. 

Selaku otoritas moneter BI juga mencoba melonggarkan kebijakan makroprudensial dengan membebaskan uang muka atau down payment (DP) untuk pembelian kendaraan bermotor. 

Kebijakan ini diharapkan semakin mampu mendongkrak permintaan terhadap kredit dari sisi konsumen. Maklum mobil merupakan barang mewah sehingga kebanyakan masyarakat Indonesia membelinya dengan kredit alias dicicil. 

Sebagai barang mewah mobil juga dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Setiap jenis mobil besarannya tentu berbeda-beda. Namun untuk menggerakkan roda perekonomian pemerintah memberikan insentif berupa PPnBM ditanggung pemerintah (DTP) 100% mulai dari bulan Maret untuk berbagai jenis mobil.

Anggaran yang dialokasikan untuk kebijakan PPnBM DTP ini senilai hampir Rp 2,99 triliun atau 39% dari alokasi dana Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk menggenjot konsumsi masyarakat senilai Rp 7,61 triliun.

Insentif tersebut memang ditujukan untuk masyarakat kalangan menengah ke atas karena mobil merupakan barang mewah yang tidak semua kalangan dapat menjangkaunya.

Harapannya masyarakat kelas menengah ini mau membelanjakan uangnya sehingga roda ekonomi bisa muter lebih kencang karena dana tidak lagi mengendap di tabungan atau aset-aset keuangan lain. 

Program vaksinasi yang terus berjalan adanya kebijakan pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) juga menjadi katalis positif bagi masyarakat untuk membeli barang-barang diskresi dengan harga yang terdiskon. 

Mengingat insentif yang diberikan pemerintah lebih banyak ke mobil-mobil yang memiliki tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) tinggi dan juga dirakit di Tanah Air dan kebanyakan yang kecipratan adalah mobil dengan tipe 4x2, maka jenis inilah yang menguasai pangsa pasar terbesar sepanjang empat bulan terakhir. 

Di posisi kedua ada mobil jenis Low Cost Green Car (LCGC) yang terkenal harganya miring. Kedua tipe mobil ini menguasai lebih dari 72% pangsa pasar mobil nasional.

Adanya kebijakan insentif ini sepertinya juga mendorong perubahan konsumsi masyarakat. Apabila sebelumnya mobil yang laris adalah mobil sejuta umat yaitu Toyota Avanza, tapi setelah adanya insentif penjualan wholesale Toyota Kijang justru melesat di bulan April dan menyalip Avanza.

Total penjualan Toyota Kijang Innova mencapai 6.248 unit, naik signifikan lebih dari 300% dari bulan sebelumnya yang hanya mencatat 2.049 unit. Di ranking dua ada Mitsubishi Xpander serta Xpander Cross hanya terjual 5.500 unit. Di bulan sebelumnya, kedua mobil ini mencatat penjualan 4.707 unit.

Avanza harus puas dengan menduduki peringkat ketiga. Toyota Avanza yang sempat terlaris di Maret lalu, harus puas menempati posisi ketiga terjual 5.385 unit. Padahal pada Maret sempat terjual 7.251 unit.

Bahkan Honda Brio yang tahun lalu menjadi mobil paling laris, justru pada April hanya menempati posisi keempat dengan total penjualan 5.014 unit. Angka ini menurun 20,7 persen dibanding pengiriman Maret 2021 yang sempat terjual 6.326 unit.

Ada kemungkinan struktur insentif dan juga keringanan dalam bentuk DP menjadi salah satu faktor pemicunya. Bayangkan saja harga satu unit mobil Toyota Avanza seri 1.3E MT dengan 1329 Cc yang saat ini memiliki banderol Rp 202,7 juta.

Dengan insentif PPnBM 10% maka diskon harganya sebesar Rp 20,27 juta. Dengan begitu konsumen hanya perlu membayar Rp 182,43 juta. Kalau ditambah dengan DP nol persen, maka ada diskon tambahan hampir Rp 18 juta. Jadi total ada diskon Rp 40 juta untuk Avanza. 

Sementara itu untuk kasus Kijang Innova yang lebih besar, yang masuk dalam kendaraan berpenggerak 4x2 dengan kapasitas mesin di bawah 2.500 cc dikenakan tarif PPnBM sebesar 20%. Jika harga satu unit Toyota Kijang Innova seri 2.0 G M/T BSN sebelumnya adalah Rp 328,4 juta/unit maka setelah diskon menjadi Rp 262,7 juta/unit.

Asumsikan DP sama 10% dari harga maka harga Kijang Innova bakal semakin miring karena bisa dibeli dengan harga hanya Rp 240 jutaan per unit di luar asuransi dan bunga kredit cicilan. 

Secara gap harga antara Innova dan Avanza juga turun. Jika dalam kondisi normal bedanya bisa mencapai Rp 120 juta/unit sekarang menjadi Rp 80 juta/unit. Jelas ini menjadi daya tarik bagi konsumen terutama bagi mereka yang punya likuiditas lebih dan membutuhkan mobil keluarga yang nyaman. Namun, di luar persoalan insentif, makin banyaknya Avanza tersalip dari model-model mobil lain, tentu harus jadi alarm keras bagi Toyota.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Mendag Lutfi Sebut Bila Tak Ada Pajak 0% Pabrik Mobil Tutup!


(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading