Geliat Ekonomi

Bisnis Ritel Sudah Bisa Tersenyum, Bos Matahari Pun Happy!

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
06 May 2021 18:40
Pengunjung berbelanja di Matahari Store dikawasan Jakarta, Senin (30/11/2020). PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) menutup 6 gerainya hingga akhir tahun ini. Jumlah gerai perusahaan ritel ini akan berkurang dari 153 toko menjadi 147 toko.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Geliat berbelanja di sektor ritel sudah mulai terlihat seminggu menjelang lebaran. Salah satunya mulai terasa di Matahari Department Store yang terus merasakan peningkatan omset.

"Ketika minggu lalu masyarakat sudah menerima gaji dan beberapa perusahaan gaji dan THR diberikan bersamaan, masyarakat sudah mulai belanja," kata Wakil Presiden Komisaris Independen PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) Roy Nicholas Mandey kepada CNBC Indonesia, Kamis (6/5/21).

Peningkatannya pun cukup lumayan, bahkan selama pandemi Covid-19, peningkatan seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. "Cukup signifikan di atas 30%, berarti di atas 1/3 dari yang biasanya. Selama ini di 2020 itu nggak terjadi yang signifikan," sebutnya.


Dengan peningkatan sebesar itu, penyumbang terbesar terbanyak berasal dari kategori middle income dengan level spending money level 110, kemudian lower income dengan level 107 serta higher income di angka 99.

Artinya, masyarakat kelas menengah yang sudah memiliki THR cenderung langsung membelanjakan uangnya dengan barang yang menjadi keinginan.

"Peningkatan baik pangan dan fesyen hampir sama. Di matahari ada department store sama Putra Prima jadi kondisinya ini signifikan keduanya, baik pangan maupun non pangan, berimbang," sebut Roy yang juga Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo).

Meski sudah terlihat peningkatan omset yang mengarah pada geliat ekonomi masyarakat, namun bukan berarti pengusaha ritel bisa euforia terus menerus. Roy memperkirakan kondisi ini tidak terjadi lama.

"Kami lihatnya ini hanya seasonable, jadi ngga sepanjang waktu, karena pandemi belum berakhir dan vaksin juga belum cukupi angka 5% dari penduduk," jelasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading