Nah, Pandemi Picu Tren Orang 'Lari' Beli Rumah Pinggir Kota

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
28 April 2021 19:47
Awal Desember 2017, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat capaian Program Satu Juta Rumah sebanyak 765.120 unit rumah, didominasi oleh pembangunan rumah bagi  masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebesar 70 persen, atau sebanyak 619.868 unit, sementara rumah non-MBR yang terbangun sebesar 30 persen, sebanyak 145.252 unit.
Program Satu Juta Rumah yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo, sekitar 20 persen merupakan rumah yang dibangun oleh Kementerian PUPR berupa rusunawa, rumah khusus, rumah swadaya maupun bantuan stimulan prasarana dan utilitas (PSU), 30 persen lainnya dibangun oleh pengembang perumahan subsidi yang mendapatkan fasilitas KPR FLPP, subsisdi selisih bunga dan bantuan uang muka. Selebihnya dipenuhi melalui pembangunan rumah non subsidi oleh pengembang.
Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah mengungkapkan, rumah tapak masih digemari kelas menengah ke bawah.
Kontribusi serapan properti oleh masyarakat menengah ke bawah terhadap total penjualan properti mencapai 70%.
Serapan sebesar 200.000 unit ini, akan terus meningkat pada tahun 2018 menjadi 250.000 unit.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung satu tahun membuat sebagian masyarakat terbiasa dengan pola work from home (WFH) atau bekerja dari rumah.

Kebiasaan ini membawa dampak pada penjualan rumah di pinggiran kota. Banyak masyarakat yang lebih memilih untuk pergi dari tempat tinggalnya di kota menuju wilayah pinggiran.

"Sekarang pinggiran Jakarta, perumahan dengan konsep nyaman, halaman luas, hijau banyak diincar konsumen atau investor," kata Ketua Umum Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) Lukas Bong kepada CNBC Indonesia, Kamis (28/4/21).


Masyarakat yang tergolong ke dalam konsumen umumnya mencari rumah pertama dengan status end user. Sementara investor umumnya sudah memiliki rumah namun ingin menambah aset dengan mencari rumah baru sebagai investasi. Keduanya cenderung sama-sama mencari rumah di pinggiran.

"Dulu campaign kembali ke kota, tapi sekarang karena WFH juga, apalagi infrastruktur maju, masif itu sangat menunjang, kerja di pinggiran Jakarta ada LRT, KRL, jalan tol, jarak tempuh 30 menit sekarang. Pinggiran bergengsi sekarang, karena dapat cost living yang lebih baik. Covid-19 sangat akan merevisi profesional atau pengusaha dalam merubah lifestyle-nya. New normal baru," sebut Lukas.

Pola seperti ini bukan hanya terjadi di Jakarta dengan kawasan penyangga Bogor, Depok, Tangerang, serta Bekasi. Namun juga sudah lintas pulau.

"Di bali banyak orang-orang yang mikir saat ini kondisi properti harga Covid-19, apalagi banyak yang WFH, gimana pindah ke Bali dengan suasana lebih nyaman, itu banyak terjadi," sebutnya.

Meski ada kecenderungan saat ini harganya mulai stabil, namun sejak awal mula pandemi Covid-19 muncul, harga rumah sempat terkoreksi dalam. Momen itu yang menjadi alasan sebagian masyarakat pindah ke wilayah yang lebih nyaman dengan mengeluarkan kocek lebih murah. Dari sisi penjual, memang ada penurunan harga namun bukan berarti rugi.

"Properti yang dibeli beberapa tahun lalu, misal harganya Rp 1 miliar, sekarang pasaran Rp 3 miliar, dia lepas Rp 2,5 miliar, bukan berati rugi Rp 500 juta, mereka jual di kondisi pasaran karena Covid-19. Ini jangan disalah artikan rugi, namun untung tapi jual di bawah harga pasar supaya cepat laku," jelasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading