Permintaan Listrik Naik 5x di 2060, PLN Bakal Penuhi dari EBT

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
26 April 2021 09:45
Wakil Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo dalam acara New Energy Conference dengan Tema

Jakarta, CNBC Indonesia - PT PLN (Persero) berkomitmen terus meningkatkan kontribusi pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT), sebagai upaya turut memerangi dampak perubahan iklim.

Darmawan Prasodjo, Wakil Direktur Utama PLN, mengatakan PLN akan berkontribusi dalam menekan emisi gas rumah kaca, terlebih permintaan listrik hingga 2060 mendatang diperkirakan akan meningkat lima kali lipat dari saat ini sekitar 300 Tera Watt hour (TWh) menjadi 1.500 TWh pada 2060.

Pada 2050 mendatang, permintaan listrik pun diperkirakan naik sekitar 800 TWh menjadi 1.100 TWh dari saat ini 300 TWh.


"Jadi, diperkirakan akan ada tambahan kapasitas listrik menjadi 1.500 TWh, naik sampai 5x lipat di 2060. Untuk itu, PLN punya komitmen penuh agar tambahan itu (kapasitas) akan berasal dari pembangkit berbasis renewable energy (EBT)," ungkapnya dalam CNBC Energy Conference: Membedah Urgensi RUU Energi Baru dan Terbarukan, Senin (26/04/2021).

Dia mengatakan, harga listrik berbasis energi baru terbarukan kini sudah sangat jauh lebih rendah dari saat dikembangkan. Hal ini tak lain karena adanya inovasi dan teknologi yang terus bertransformasi, sehingga biaya menjadi lebih murah.

"Dulu harga EBT 25-30 sen dolar per kWH, sekarang harga listrik PLTS sudah 3,6-4 sen dolar per kWh," ujarnya.

Namun demikian, dia mengakui untuk listrik PLTS kini masih digunakan sebagai intermittent (berselang/ tidak terus-menerus), bukan sebagai beban penopang dasar (base load).

Dia mengakui, untuk PLTS kini masih berproduksi hanya dari pukul 10.00 pagi hingga sekitar 14.00.

"EBT sebagian masih intermittent, sisanya masih fosil," ujarnya.

Agar bisa bersaing dengan harga listrik berbasis fosil, maka menurutnya untuk PLTS dibutuhkan baterai, sehingga produksi bisa terus-menerus.

PLN bersama Pertamina, imbuhnya, berkomitmen untuk menurunkan harga listrik PLTS ini sampai 2 sen dolar per kWh pada lima sampai enam tahun ke depan.

"Manusia itu berinovasi, kami dengan Kementerian ESDM di sini, ada Pertamina, kami bersama lainnya dalam 5-6 tahun ke depan akan turunkan harga (PLTS) bisa sampai 2 sen (dolar per kWh), bisa jadi base load dan akan mampu bersaing dengan fossil fuel," tuturnya.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, hingga 2020 telah terpasang 153,5 Mega Watt (MW) PLTS di dalam negeri. Sedangkan potensi energi surya di Indonesia bisa mencapai 207,8 Giga Watt (GW).

PLTS pun digadang menjadi salah satu pendorong pencapaian energi baru terbarukan karena dinilai bisa dibangun atau dipasang lebih cepat dibandingkan jenis energi baru terbarukan lainnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

PLN Blak-blakan Soal Tantangan Kelistrikan RI


(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading