Vaksin Covid-19

Ada Kasus Pembekuan Darah Vaksin J&J, Begini yang Terjadi!

News - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
16 April 2021 20:50
Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson. AP/Mary Altaffer

Jakarta, CNBC Indonesia - Terdapat kasus pembekuan darah yang dikaitkan dengan penggunaan vaksin Johnson & Johnson (J&J). Lalu apa saja gejala terkait pembekuan darah ini?

Direktur Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Dr. Rochelle Walensky menjelaskan gejalanya termasuk sakit kepala parah, sakit perut, sakit kaki atau sesak napas. Seluruh gejala mengarah pada kunjungan gawat darurat.

"Yang penting kami memiliki dua vaksin lain yang diizinkan untuk digunakan di negeri ini. Sekali lagi kami tidak melihat kejadian ini dengan dua vaksin lainnya dengan Pfizer dan Moderna," jelasnya, dikutip dari AP. Sabtu (17/4/2021).


Panduan pun dikeluarkan bagi mereka yang telah mendapatkan suntik vaksin Johnson &J ohnson oleh CDC. Penerima vaksin lebih dari sebulan lalu risikonya sangat rendah.

Sementara bagi yang baru menerimanya dalam beberapa minggu terakhir, penerima vaksin harus menyadari gejala. Mereka juga diharapkan segera mencari bantuan medis jika mendapatkan gejala memperhatikan.

Namun Rochelle menambahkan dalam kelompok ini, kejadian pembekuan darah sangat jarang terjadi.

"Namun saya ingin mengulang lagi kepada kelompok ini bahkan dalam kelompok ini bahwa peristiwa ini sangat jarang terjadi," ujar Rochelle.

Temuan kasus pembekuan darah membuat sejumlah negara melarang penggunaan vaksin Johnson & Johnson. Salah satunya adalah AS yang menghentikan sementara penggunaannya dalam program vaksinasi negara itu.

Keputusan itu diumumkan dalam keterangan bersama Food and Drug Administration (FDA) serta CDC. Keduanya menyebutkan keamanan vaksin jadi prioritas utama pemerintah.

"Keamanan vaksin Covid-19 adalah prioritas utama pemerintah federal, dan kami menanggapi semua laporan masalah kesehatan setelah vaksinasi Covid-19 dengan sangat serius," tulis kedua lembaga dalam keterangannya.

Kasus pembekuan darah ditemukan pada enam wanita berusia antara 18-48 tahun. Gejalanya terus berkembang dari enam hingga 13 hari setelah mereka mendapatkan vaksin J&J.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading