Ini Untung Rugi Naiknya Harga Minyak & Logam Dasar Bagi RI

News - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
25 February 2021 19:07
Tambang legendaris Grasberg milik PT Freeport Indonesia yang berlokasi di Papua akan habis dan ditutup pada pertengahan tahun ini. Sebagai penggantinya, produksi emas, perak, dan tembaga Freeport akan mengandalkan tambang bawah tanah.

Tambang bawah tanah ini lokasinya persis di bawah Grasberg. Penambangan bawah tanah menggunakan metode block caving, yang merupakan cara penambangan bawah tanah dengan efisiensi sumberdaya yang tinggi untuk melakukan penambangan, di mana blok-blok besar bijih di bawah tanah dipotong dari bawah sehingga bijih tersebut runtuh akibat gaya beratnya sendiri.

Tambang bawah tanah ini sudah direncakan sejak 2004 dan terus dikembangkan hingga sekarang. Ada dua blok tambang bawah tanah Freeport yang jadi andalan saat ini, yaitu Deep Ore Zone (DOZ) dan Big Gossan. Saat ini tengah dikembangkan juga blok bernama Deeep Mill Level Zone (DMLZ).

Di dalam tambang ini, terbangun jalan sepanjang 650 kilometer (km), yang berarti panjangnya lebih dari jarak Jakarta ke Yogyakarta. Jalan di dalam tambang bawah tanah ini akan terus dibangun hingga 1.000 km atau seperti Jakarta ke Surabaya.

Data terakhir produksi rata-rata dari tambang bawah tanah ini adalah 80.000 ton ore (bijih tambang) per hari.

Sampai dengan 2019, Freeport telah mengeluarkan investasi hingga US$ 16 miliar atau dengan kurs, saat ini sekitar Rp 224 triliun untuk pengembangan tambang bawah tanah yang akan menjadi andalan mereka. Ke depan, Freeport yang saat ini 51% sahamnya dimiliki oleh PT Indonesia Alumunium (Inalum) akan mengucurkan lagi investasi hingga US$ 15 miliar atau sekitar Rp 210 triliun untuk tambang bawah tanah tersebut.  (CNBC Indonesia/Wahyu Daniel)

Namun bengkanya CAD untuk 2021 diperkirakan tak akan separah tahun 2019 yang mencapai lebih dari 2% PDB. Bank Dunia dalam laporan risetnya Januari lalu meramal CAD Indonesia tahun ini naik 1 poin persentase menjadi 1,4% PDB.

Salah satu faktor yang menahan gempuran melarnya CAD adalah ekspor komoditas Indonesia. Tahun 2021 merupakan tahun Kerbau Logam dalam kalender Tionghoa.


Di tahun ini harga-harga komoditas pertambangan seperti logam dasar dan batu bara diramal akan memasuki periode super siklus (commodity supercycle). Salah satu cirinya adalah kenaikan harga komoditas itu sendiri. 

Apabila dilihat secara seksama, memang banyak komoditas yang melesat di tahun 2021. Selain minyak mentah, ada tiga komoditas unggulan minerba yang harganya melesat paling tinggi dalam satu tahun terakhir. Hal ini tercermin dari harga mineral acuan yang dipatok oleh Kementerian ESDM. 

Batu bara, nikel dan tembaga menjadi pemimpin kenaikan harga komoditas tambang dalam satu tahun ini. Masing-masing naik lebih dari 20%. Prospek harga nikel ditopang oleh moratorium ekspor bijih nikel RI yang mulai dilakukan awal 2020 dan semakin maraknya industri mobil listrik. 

Untuk batu bara, hubungan Australia dengan China yang retak semasa pandemi juga menguntungkan bagi Indonesia. Negeri Panda lebih memilih mengimpor batu bara dari Indonesia. 

Harga nikel global yang sudah tembus US$ 18.000/ton tentu menguntungkan Indonesia sebagai produsen terbesar di dunia yang berkontribusi terhadap 27% dari total output nikel global.

Tren mobil listrik selain membuat harga nikel melesat juga mengerek naik harga tembaga. Keduanya adalah jenis logam dasar yang memiliki banyak manfaat di sektor manufaktur maupun infrastruktur. 

Dengan kenaikan harga komoditas logam dasar serta batu bara yang dibarengi dengan ekspansi ekonomi China, sebagai destinasi utama ekspor komoditas RI, ini menjadi katalis positif sehingga diharapkan neraca berjalan walau melar tetap lebih rendah dari 2% PDB. 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading