Internasional

AS Masuk Lagi WHO, Biden Bayar Rp 2,8 Triliun

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
18 February 2021 14:30
The logo of the World Health Organization is seen at the WHO headquarters in Geneva, Switzerland, Thursday, June 11, 2009. The World Health Organization held an emergency swine flu meeting Thursday and was likely to declare the first flu pandemic in 41 years as infections climbed in the United States, Europe, Australia, South America and elsewhere. (AP Photo/Anja Niedringhaus)

Jakarta,CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) mengaku akan segera membayar US$ 200 juta (sekitar Rp 2,8 triliun) ke Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO). Ini akan dilakukan akhir Februari ini, setelah pembatalan rencana keluar dari lembaga PBB itu, yang sebelumnya dicetuskan Donald Trump.

Menteri luar Negeri Anthony Blinken menyebut angka itu adalah komitmen AS kepada WHO sebagai donor terbesar. Sejak dipimpin Presiden Joe Biden, AS berkomitmen kembali ke badan tersebut.


"Kunci dalam memenuhi keuangan kami sebagai anggota WHO," tegasnya saat sesi virtual Dewan Keamanan PBB terhadap Covid-19, dikutip dari AFP, Kamis (18/2/2021).

AS, kata dia, juga akan bekerja sebagai mitra untuk mengatasi tantangan global pandemi. Menurutnya, Paman Sam juga akan memberi dukungan finansial yang signiifikan ke program Covax, yang berupaya membagikan vaksin secara adil termasuk ke negara berkembang dan miskin.

WHO menyambut baik pengumuman Blinken. Lembaga itu mengatakan dana AS akan mendukung tujuan badan untuk meningkatkan kesejahteraan miliaran orang di 2023.

"Tidak hanya pandemi Covid-19 tapi juga keadaan darurat lain," kata WHO.

Sebelumnya di 2020, Trump mengumumkan pengunduran diri AS dari keanggotaan WHO. Trump menilai WHO bias ke China dan tidak melakukan banyak hal untuk menghentikan penyebaran corona.

Biden yang menjabat 20 Januari 2021 membatalkan keputusan tersebut setelah menjabat. Namun Biden menekan China untuk terbuka kepada WHO terutama soal asal usul virus corona yang pertama kali mewabah di negara itu tahun 2019.

"Semua negara harus menyediakan semua data dari hari-hari awal wabah," kata Blinken.

"Dan ke depan, semua negara harus berpartisipasi dalam proses yang transparan dan kuat untuk mencegah dan menanggapi keadaan darurat kesehatan sehingga dunia belajar sebanyak mungkin, secepat mungkin."

Berdasarkan data Worldometers, ada 110 juta warga dunia yang telah terinfeksi corona, dengan 2,4 juta kematian. Sementara kasus sembuh sebanyak 85 juta.AS memimpin klasemen dengan 28 juta warga telah terinfeksi, dengan 502 kematian. Disusul India (10,9 juta), Brasil (9,9 juta), Rusia (4,1 juta) dan Inggris (4 juta).




[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading