Warning! Hampir 40% Bencana Alam di RI Akibat Banjir

News - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
18 February 2021 13:40
Tim SAR mengevakuasi warga yang terjebak banjir di kampung Kebon Pala, Jakarta, Senin (8/2/2021). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melihat penanganan banjir belum efektif. Tercatat jumlah daerah banjir yang kian meningkat di beberapa daerah di Indonesia.

Dari catatan Kementerian PUPR banjir melanda wilayah Indonesia antara lain di Konawe (Sulawesi Tenggara), Luwu (Sulawesi Selatan), Samarinda (Kalimantan Timur), Garut (Jawa Barat), Bandung, DKI Jakarta dan Surabaya serta di beberapa titik lainnya. Tapi banjir terbesar terjadi di Kalimantan Selatan.

"Ini banjir terbesar selama 50 tahun terakhir di Kalimantan Selatan menurut kajian dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). Kita menjadi tahu selain curah hujan ekstrem kerusakan daerah aliran sungai juga menjadi pemicu banjir dan longsor," kata Sekretaris Jenderal Kementerian PUPR Mohammad Zainal Fatah, dalam webinar, Kamis (18/2/2021).


Sejak Januari sampai Desember 2020 Indonesia juga telah mengalami bencana alam sebanyak 2.900 kali yang didominasi bencana hidrometeorologi, atau dengan kejadian banjir sebanyak 1.065 kali.

Sehingga banjir mendominasi kejadian hingga 36% total bencana. Dari banjir juga mengakibatkan 370 orang meninggal dunia serta kerugian materil terdata lebih dari 40 ribu unit rumah rusak belum termasuk kerusakan fasilitas public seperti sekolah, rumah ibadat, fasilitas kesehatan, dan fasilitas pendukung lainnya.

Dari catatan Kementerian PUPR di awal 2021 banjir sudah tercatat di 200 lebih titik dengan korban 140 orang meninggal dunia dan 750 orang lainnya luka-luka.

"Sehingga kami melihat banjir setiap musim penghujan belum ditangani secara tuntas. Hal ini menjadi pemikiran apakah penanganan banjir saat ini sudah tepat? Atau kita masih belum beranjak dari cara lama yang tidak menyelesaikan masalah secara tuntas, namun hanya berupaya menurunkan elevasi permukaan air tanpa melihat banjir yang berkembang dimasa mendatang," katanya.

Zainal melihat upaya non teknis juga masih sebatas wacana di seminar atau tulisan di paper atau buku. Serta belum ada yang menjawab tantangan menemukan masalah masalah banjir terbesar di berbagai sektor yang belum tertangani dengan baik.

Contohnya, masih banyak kawasan dilanda banjir pada dasarnya merupakan dataran yang seharusnya tidak boleh dikembangkan. Selain itu penanganan banjir juga baru selalu disibukan dengan hanya fokus fisik dengan pembangunan kolam dan pompa.

Dari data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) saat ini terdapat 14 juta lahan kritis di Indonesia. Hal ini dapat mengancam daerah aliran sungai. Sementara kemampuan daerah untuk melakukan pemulihan lahan kritis hanya berkisar 230 hektar per tahun atau sekitar 1,66%.

"Penanganan banjir harus dilakukan dengan kolaborasi dari multi sectoral melibatkan seluruh kepentingan bersama untuk menyelesaikan masalah secara berkelanjutan," katanya.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading