Indonesia Jadi Negara Maju 2045? Maaf, Masih Jauh Dari Angan

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
09 February 2021 19:37
Ratusan kendaraan mobil melintas diruas jalan tol Cawang-Grogol, Jakarta, Rabu 23/12. Pantauan CNBC Indonesia terlihat kepadatan kendaraan sejak pukul 15.00 wib. Kawasan jalan tol pondok gede Timur dua juga terlihat ramai lancar. Menjelang libur Natal 2020, sebanyak 842.000 kendaraan diprediksi meninggalkan wilayah DKI Jakarta dengan berbagai tujuan melalui tol Jasa Marga . Jumlah kendaraan itu akan mulai tercatat sejak Kamis 24 Desember hingga Minggu 27 Desember 2020. Operation and Maintenance Management Group Head Jasa Marga, Pratomo Bimawan Putra menjelaskan, puncak arus lalu lintas keluar Jabotabek pada Libur Natal 2020 diprediksi terjadi pada Kamis, 24 Desember 2020.”Puncak arus lalu lintas kembali menuju Jakarta terjadi pada Minggu 27 Desember 2020,” katanya, Rabu (23/12/2020) (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia tampaknya masih jauh dari cita-cita untuk bisa mewujudkan menjadi negara maju di 2045. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa.

Suharso mengatakan Indonesia belum bisa menjadi negara maju atau high income country pada 2045, lantaran adanya tekanan ekonomi di dalam negeri karena pandemi Covid-19.

Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2020, berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) terkontraksi atau -2,07%. Kontraksi ekonomi pertama sejak krisis moneter pada 1998 lalu.

Kontraksinya pertumbuhan ekonomi pada 2020 tersebut, juga membuat masyarakat miskin semakin miskin. Hal ini terbukti dari pendapatan per kapita masyarakat Indonesia tahun lalu yang turun cukup drastis.

Pendapatan perkapita 2020 menjadi US$ 3.911,7 atau setara Rp 56,9 juta dari sebelumnya US$ 4.174,5 atau setara Rp 59,1 juta di 2019.

"Akibat jangka panjang, kalau tingkat pertumbuhan ekonomi hanya 5% misalnya, untuk lepas dari middle income itu jauh sekali. Bahkan 2045 pun belum masuk high income," kata Suharso dalam konferensi pers, Selasa (9/2/2021).

Dalam jangka pendek, pemerintah mewaspadai adanya jebakan negara kelas menengah (middle income trap). Alasannya karena pandemi covid-19, Indonesia kembali masuk sebagai negara berpendapatan menengah setelah akhir 2019 naik ke upper middle income.

Kendati demikian, Suharso optimistis, Indonesia bisa menjadi negara maju. Caranya adalah dengan mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi ke depannya. Bahkan, bukan tidak mungkin Indonesia bisa menjadi negara maju pada 2030, asalkan pertumbuhan ekonomi bisa dicapai hingga 7%.

"Dengan keadaan yang kita alami, mudah-mudahan apabila tingkat pertumbuhan 2021 mencapai 4,5% sampai 5,5%, tahun depan bisa 5%, maka kita akan kembali ke angka di atas US$ 4.000 (pendapatan per kapita) sehingga masuk lagi upper middle," tuturnya.

"Kalau pertumbuhan ekonomi bisa 6%, mudah-mudahan sebelum 100 tahun kita bisa mencapai negara high income country. Kalau bisa 7%, kita di tahun 2030-an bisa mencapai di atas US$ 12 ribu (pendapatan per kapita)," kata Suharso melanjutkan.

Untuk diketahui, berdasarkan perhitungan Bank Dunia, ada empat kategori negara berdasarkan pendapatan per kapita.

Pertama, negara berpendapatan rendah (low income) dengan pendapatan per kapita di bawah US$ 995 per tahun. Kedua, negara berpendapatan menengah ke bawah (lower-middle) pada kisaran US$ 996 - US$ 3.895 per tahun.

Ketiga, negara berpendapatan menengah ke atas (upper-middle income) US$ 3.896 - US$ 12.055. Keempat, negara pendapatan tinggi (high income) alias negara maju dengan pendapatan per kapita di atas US$ 12.056 per tahun.

Artinya, saat ini Indonesia masuk ke dalam negara berpendapatan menengah ke atas (upper-middle income), karena pendapatan perkapita Indonesia 2020 sebesar US$ 3.911,7 atau setara Rp 56,9 juta



[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Alarm Ketimpangan Distribusi Vaksin


(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading