Gokil! HBA Februari Terbang ke US$ 87,79 per Ton

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
04 February 2021 19:52
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga Batu Bara Acuan (HBA) Februari 2021 melonjak ke posisi US$ 87,79 per ton, atau naik 15,75% dari posisi harga Januari 2021 yang sebesar US$ 75,84 per ton.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan, kenaikan ini dipicu sentimen yang dibentuk oleh super siklus komoditas.

"Adanya sentimen commodity supercycle, antara lain kenaikan harga gas ikut memperkuat harga batu bara," papar Agung, seperti dikutip dari keterangan resmi Kementerian, Kamis (04/02/2021).


Agung menyebut sinyal supercycle ini diyakini bakal terjadi di tahun ini pada berbagai komoditas, terutama komoditas pertambangan. Salah satu pemicunya berasal dari suku bunga acuan yang rendah, dolar AS yang lemah, pertumbuhan ekonomi, serta pembangunan infrastruktur di berbagai negara.

Lebih lanjut dia menyampaikan, selain dari faktor supercycle, melonjaknya permintaan impor batu bara dari China juga turut mendorong HBA.

"Suplai batu bara domestik (China) tidak dapat memenuhi kebutuhan batu bara pembangkit listriknya," ungkapnya.

Harga batu bara kembali pulih dan berangsur naik dalam empat bulan terakhir setelah sebelumnya mengalami tekanan akibat pandemi Covid-19. Pada Oktober 2020 HBA di posisi US$ 51 per ton, lalu naik di November 2020 ke posisi US$ 55,71 per ton, dan Desember 2020 naik menjadi US$ 59,65 per ton.

Lalu, naik lagi pada Januari 2021 ke posisi US$ 75,84 per ton.

"Selama empat bulan terakhir harga batu bara terus menuju ke level psikologis," jelasnya.

Sebagai informasi, perubahan HBA diakibatkan juga oleh faktor turunan suplai dan faktor turunan dari permintaan. Untuk faktor turunan suplai dipengaruhi oleh cuaca, teknis tambang, kebijakan negara supplier, hingga teknis di rantai pasok seperti kereta, tongkang, maupun terminal bongkar muat (loading terminal).

Sementara untuk faktor turunan permintaan, dipengaruhi oleh kebutuhan listrik yang turun berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan kompetisi dengan komoditas energi lain, seperti LNG, nuklir, dan hidro.

Nantinya, HBA bulan Februari ini akan dipergunakan pada penentuan harga batu bara pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Vessel).


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading