Just FYI, Lockdown di Eropa Sukses Tekan Kasus Corona Lho...

News - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
22 January 2021 14:43
A man walks backdropped by the Bank of England in the City of London financial district in London, Jan. 5, 2021, on the first morning of England entering a third national lockdown since the coronavirus outbreak began. British Prime Minister Boris Johnson on Monday night announced a tough new stay-at-home order that will last at least six weeks, as authorities struggle to stem a surge in COVID-19 infections that threatens to overwhelm hospitals around the U.K. (AP Photo/Matt Dunham)

Jakarta, CNBC Indonesia - Eropa tidak lagi menghadapi serangan gelombang kedua Covid-19. Pada awal Desember tahun lalu, kasus infeksi Covid-19 harian di berbagai negara Benua Biru terutama Jerman dan Inggris mengalami lonjakan yang signifikan. 

Inggris dan Jerman merupakan dua negara dengan populasi yang terpadat di Benua Eropa setelah Rusia. Dengan total penduduk lebih dari 151 juta jiwa (20,5% dari total penduduk Eropa) Negeri Panser dan Negeri John Bull merupakan perekonomian terbesar di Eropa dengan total output perekonomian mencapai EUR 3,97 miliar (48,2% PDB Eropa).

Sebagai negara dengan jumlah penduduk dan output ekonomi terbesar jelas saja serangan gelombang ketiga Covid-19 di negara tersebut menjadi perhatian publik global.


Semua bermula di awal Desember. Hanya dalam dua pekan pertama di penghujung tahun kasus harian Covid-19 di Inggris bertambah dua kali lipat. Sementara itu di Jerman jumlah kasus baru meningkat lebih dari 100% pada periode yang sama.

Tren kenaikan kasus baru di Inggris dikaitkan dengan temuan baru varian Covid-19 yang lebih ganas oleh para ilmuwan yang tergabung dalam konsorsium genomik Covid-19 di negara tersebut. Varian yang kini juga ditemukan di lebih dari 30 negara di dunia tersebut disebut 70% lebih menular dari varian awal yang ditemukan.

Mutasi virus Corona jenis baru (SARS-CoV-2) yang cepat membuat Perdana Menteri Boris Johnson kelabakan. Padahal di saat yang sama Inggris sedang mempersiapkan diri untuk bercerai dari Eropa.

Akhirnya politikus Partai Konservatif tersebut memilih untuk kembali menerapkan lockdown. Jerman yang mengalami nasib sama juga mengikuti langkah tersebut. Kanselir Angela Merkel memerintahkan untuk menutup bar, bioskop dan tempat hiburan sementara restoran tetap diizinkan buka hanya untuk melayani pesan antar.

Kebijakan partial lockdown yang ditetapkan oleh Merkel bukan tanpa konsekuensi. Banyak masyarakat Jerman yang memprotes keras dan melakukan aksi demonstrasi. Namun mau bagaimana lagi, ancaman Covid-19 bukan main-main.

Implementasi lockdown yang dimulai sejak awal Desember tersebut berakibat pada penurunan mobilitas publik. Hal ini tercermin dari indeks mobilitas di versi apple yang melacak aktivitas mengemudi, transit hingga jalan-jalan masyarakat Jerman dan Inggris.

Hampir dua bulan berlalu, pengetatan pembatasan aktivitas masyarakat tersebut tampak mulai membuahkan hasil. Kasus baru Covid-19 di Jerman dan Inggris mulai melandai bahkan turun. 

Setelah mencapai puncak pada 10 Desember lalu, kasus berangsur turun. Di Inggris kasus harian drop 27,5% dari hampir rata-rata 60 ribu kasus per hari pada 10 Desember menjadi 43,5 ribu saja kemarin.

Setali tiga uang Jerman juga mencatatkan penurunan kasus hingga 50% dari 22 ribu menjadi 14 ribu saja atau turun sekitar 33% pada periode yang sama jika menggunakan perhitungan rata-rata kasus harian dalam periode satu minggu.

Tingkat kasus positif (positivity rate) di Inggris juga menurun kembali ke digit tunggal, tetapi belum sampai ke bawah 5%. Tingkat kasus positif mengindikasikan seberapa menular suatu wabah. Semakin tinggi angkanya berarti infeksi Covid-19 semakin tak terbendung.

Berdasarkan standard WHO, kasus dikatakan sudah terkendali dan pelonggaran boleh dilakukan ketika tingkat kasus positifnya konsisten di bawah 5% dalam dua pekan berturut-turut.

Jerman & Inggris Mulai Vaksinasi Covid-19
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading