Tiba-Tiba Pedagang Daging Batal Mogok Jualan 3 Hari, Kenapa?

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
20 January 2021 11:57
Ilustrasi pasar daging dipasar Senen yang sepi. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Hari ini, pedagang daging sapi di Jabodetabek kompak melakukan aksi mogok jualan sebagai imbas naiknya harga. Semula, rencana ini bakal berlangsung tiga hari atau hingga lusa, Jumat (22/1/21) tapi rencana ini urung dilakukan.

Hal ini karena pada Selasa Malam (19/1) ada pertemuan di antara pelaku industri daging sapi dan kementerian perdagangan (Kemendag). Namun, 
karena surat edaran mogok dari asosiasi pedagang daging Indonesia (APDI)) sudah telanjur menyebar, maka pada Rabu (20/1) mayoritas pedagang tetap memilih mogok jualan.

Ketua APDI Asnawi memperkirakan pada hari ini mayoritas pedagang tetap tak berjualan meski aksi mogok sudah dicabut. Sehingga pada Kamis (21/1), pedagang daging daging kemungkinan akan kembali berjualan.


"Hari ini ada kemungkinan di atas 90% pedagang nggak berdagang karena, bisa beli nggak bisa jual," katanya kepada CNBC Indonesia, Rabu (20/1/21).

Keluhan soal tingginya harga daging muncul karena selama tiga bulan terakhir pedagang cukup kesulitan menjual dagangannya. Alasannya karena kenaikan harganya cukup tinggi dan mendapat respon buruk dari konsumen.

"Ada sudut pandang miring dari konsumen seolah-olah harga daging ulah pengecer. Sesungguhnya nggak gitu. Udah rugi disangka negatif," sebut Asnawi.

Padahal, kenaikan harga sudah terjadi dari sisi hulu yakni importir. Pihak importir sapi mendapatkan harga yang sudah sangat tinggi dari negara produsen seperti Australia per Juli 2020 sudah pada posisi 3,6 dolar Amerika per 1 kg bobot hidup sapi bakalan, dan harga per bulan Januari - Februari 2021 sudah masuk pada posisi 3,9 dolar Amerika per 1 kg bobot hidup sapi bakalan, belum biaya-biaya bongkar muat pelabuhan dan transportasi.

"Kenaikan harga terjadi sejak Juli 2020 sampai Januari 2021 sudah mencapai Rp 13.000,-/kg pembelian sapi bakalan dari Australia," paparnya.

Kenaikan harga ini yang membuat pedagang memilih untuk mogok. Pasalnya, jika tetap berdagang maka yang ada kerugian. Namun, Pemerintah pun tidak melarang.

"Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, tidak bisa memaksakan pedagang mesti harus berdagang walau harus menanggung kerugian, dan juga tidak mempersalahkan jika pedagang daging sapi tidak berdagang karena itu pilihan," sebut Asnawi.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading