Simak Cerita Ridwan Kamil Pasca Disuntik Bio Farma - Sinovac

News - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
13 January 2021 08:19
Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) resmi menggunakan mobil listrik sebagai kendaraan dinas untuk pertama kalinya. Hari ini, Selasa (29/12) PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) secara resmi menyerahkan tiga unit mobil listrik kepada Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil atau yang akrab disapa Kang Emil. Ketiga mobil tersebut adalah 2 unit IONIQ Electric dan 1 unit KONA Electric. (Dok: Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada hari ini, Rabu 13 Januari 2021 akan menjadi orang pertama Indonesia yang divaksinasi vaksin Covid-19. Vaksinasi akan digelar di Istana Kepresidenan Jakarta, pada pukul 10:00 WIB.

Melalui akun Instagram resminya, seperti dikutip CNBC Indonesia, Rabu (13/1/2021), Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menceritakan pengalamannya setelah dua kali disuntik vaksin Covid-19 melalui Bio Farma - Sinovac.

"Jadi tidak perlu disuntik lagi," kata Kang Emil, sapaan akrabnya.


Berdasarkan data uji klinis, efikasi vaksin Sinovac mencapai 65,3% atau berada di atas standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Setelah 3 bulan disuntik, Ridwan Kamil merasa antibodinya kini semakin kuat.

Namun, Kang Emil juga angkat bicara perihal efek samping dari vaksinasi. Berdasarkan pengalamannya, ia mengaku tidak ada efek samping yang dirasakan dari rata-rata relawan yang divaksinasi kala itu.

"Paling hanya pegal 1 jam setelah disuntik dan saya mah mengantuk selama 3 hari. Tidak ada demam, tidak ada bengkak, tidak nambah panjang si otong dan tidak berubah jadi hijau Hulk atau apapun yang selama ini banyak dikhawatirkan," jelasnya.

"Efek baik badan merasa lebih sehat, nafsu makan naik, dan nafsu julid turun," kata Kang Emil.

Ridwan Kamil menegaskan vaksin yang kala itu digunakan saat ini belum diproduksi secara massal. Vaksin yang akan digunakan pada hari ini merupakan vaksin Sinovac yang dibeli langsung setelah berhasil menjalani serangkaian tes di beberapa negara.

"Jika tidak darurat, vaksinasi adalah pilihan. Namun situasi darurat perang pandemi ini, maka vaksinasi adalah kewajiban. Menolaknya berarti membahayakan keselamatan masyarakat dan negara dan tentu saja ada sanksi sesuai hukum darurat wabah dan karantina kesehatan," katanya.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading