Vaksinasi Corona Mulai April, Pengusaha Hotel Komentar Begini

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
04 January 2021 13:45
In this photo released by Xinhua News Agency, a medical worker injects a man with a COVID-19 vaccine at a healthcare center in Beijing, China, Saturday, Jan. 2, 2021. China authorized its first homegrown COVID-19 vaccine for general use on Dec. 31, 2020, adding another shot that could see wide use in poorer countries as the virus surges back around the globe. (Peng Ziyang/Xinhua via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Masyarakat Umum baru akan mendapatkan vaksin covid-19 pada periode kedua yang berlangsung pada April 2021. Periode kedua vaksinasi nasional ini akan berlangsung selama 11 bulan hingga Maret 2022.

Vaksinasi yang dilakukan secara bertahap ini akan dilakukan di 34 provinsi mencapai 181,5 juta jiwa. Untuk tahap awal hanya difokuskan pata tenaga kesehatan yang jadwal dimulai dari pekan kedua atau ketiga Januari 2020.

Pelaku Industri pariwisata masih mencoba bertahan pada kondisi ini, walaupun pesimistis vaksinasi akan segera mengubah keadaan.


Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran menjelaskan selama pandemi belum berakhir maka sektor pariwisata belum akan Kembali pulih. Karena sektor pariwisata berkaitan dengan pergerakan orang, sementara kondisi saat ini ada pembatasan yang dimandatori oleh pemerintah.

"Sektor pariwisata yang membutuhkan pergerakan orang, 2021 akan ada kebangkitan. Pandemi ada itu bukan kebangkitan. 2021 gimana pemerintah membantu pelaku usaha bertahan," katanya kepada CNBC Indonesia, Senin (4/1/2020).

Dia membayangkan pada tahun 2021 ini belum ada pertumbuhan untuk sektor pariwisata. Program vaksinasi juga yang dimulai pada tahun ini belum tentu bisa langsung mengobati industri pariwisata. Sehingga tidak menutup kemungkinan pemerintah Kembali memberlakukan rem darurat Ketika angka penyebaran Covid-19 ini naik tiba tiba.

"Untuk sektor pariwisata masih wait and see dengan situasi pandemi, karena kondisi seperti ini ada kebijakan pemerintah seperti rem mendadak, itu menghambat pergerakan, itu menghambat pariwisata, saya kira 2021 masih akan seperti itu," katanya.

Dalam catatannya tingkat okupansi di sektor perhotelan pada tahun lalu hanya 35% di bawah rata-rata tahunan kondisi sebelum pandemi dil evel 57%. Sementara tenaga kerja yang tidak terserap pada tahun kemarin mencapai 60%.

"Sifatnya vaksin untuk menjadi pelengkap 3M nantinya belum langsung mengobati, kalau nanti masih ada penyebaran logikanya masih ada pembatasan. Imbasnya ke produktifitas sektor pariwisata," ucapnya.

Dia melihat sektor pariwisata masih membutuhkan dukungan dari pemerintah untuk bertahan. Dari insentif program dana hibah sektor pariwisata yang diberikan pada tahun lalu juga masih belum cukup untuk hotel dan restoran bertahan.

"Dana Hibah nilainya untuk bayar PBB juga masih kurang. Itu seperti itu kondisinya kita balikin negara kita masih butuh dorongan untuk bertahan. Pariwisata itu butuh interaksi orang," imbuhnya.

Ia bilang bila program vaksinasi itu dijalankan, Maulana juga masih pesimistis industri pariwisata akan bergeliat pada tahun ini. Prediksinya pertumbuhan baru bisa dirasakan jika program vaksinasi ini berhasil mencegah penyebaran dan kondisi pandemi berakhir.

"Vaksin bukan obat tapi adalah pelengkap dari 3M tadi, tahun ini masih akan sulit dan kondisi kita baru masih hanya untuk survive," katanya.

Sekarang gimana caranya industri pariwisata bisa recovery dulu dari keterpurukan tahun lalu, sehingga penyerapan tenaga kerja dapat Kembali seperti tahun sebelum pandemi.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading