Internasional

Strategi Tempur AS kalau Perang di Laut China Selatan

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
14 December 2020 13:52
The MQ-4C Triton unmanned aircraft system completes its inaugural cross-country ferry flight at Naval Air Station Patuxent River, U.S., September 18, 2014. Picture taken September 18, 2014. U.S. Navy/Handout via REUTERS THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY.

Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan antara China dan Amerika Serikat (AS) semakin memanas. Belum lama ini muncul kekhawatiran besar akan konflik antara kedua negara adidaya di wilayah perairan termahal di dunia, Laut China Selatan (LCS).

Jika konflik antara China dan AS benar terjadi, Negeri Paman Sam menyatakan siap untuk menerbangkan drone dengan teknologi tak berawak untuk bertempur dengan Beijing tahun 2021. Pernyataan tersebut dikemukakan oleh Laksamana Muda Robert Gaucher, seorang direktur di markas besar maritim AS Armada Pasifik.


"Kami sedang mendemonstrasikan untuk awal 2021 agar dapat menjalankan pertempuran armada yang berpusat pada (teknologi) tak berawak," kata Gaucher, dikutip dari Express, Senin (14/12/2020).

"Itu akan ada di laut, dan di bawah laut saat kami akan mendemonstrasikan bagaimana kami dapat menyelaraskan diri dengan (AS. Indo-Pacific Command) mengarahkan untuk menggunakan eksperimen untuk mendorong kematian."

Keputusan tersebut dielu-elukan sebagai terobosan besar bagi AS, menurut Eurasiantimes.com. Operasi pelatihan secara rutin terjadi di perairan, oleh semua negara yang mengklaim wilayah tersebut.

Angkatan Laut AS secara teratur menjalankan masalah pertempuran armada, yang memungkinkan militer menguji bagaimana mereka akan mengerahkan pasukannya jika konflik meletus di LCS.

Gaucher dilaporkan juga menginginkan sekitar US$ 2 miliar (Rp 28,3 triliun, asumsi Rp 14,162/US$) untuk memproduksi 10 kapal permukaan tak berawak selama lima tahun ke depan. Namun, permintaan Kongres saat ini mengajukan keberatan.

"Saya ingin dapat menempatkan kapal permukaan tak berawak di dalam area yang ditolak musuh," tambah Gaucher.

China mengklaim hampir seluruh wilayah LCS dengan konsep sembilan garis putus-putus (nine-dash line) dan memiliki klaim teritorial yang tumpang tindih dengan beberapa negara ASEAN, yakni Filipina, Vietnam, Malaysia, Indonesia, Brunei, dan Taiwan.

Akibatnya selama bertahun-tahun, AS turut turun tangan untuk mendukung negara-negara tetangga Asia, yang terancam oleh militer China. Bersama dengan kritik lain dari AS seputar penanganan China atas Hong Kong, konflik ini menyebabkan tekanan diplomatik yang merosot antara AS dan China.

Di antara kekhawatiran banyak ahli atas perselisihan yang sedang berlangsung ini adalah kemungkinan bahwa peningkatan patroli dari kapal Angkatan Laut AS dapat menyebabkan konflik yang tidak disengaja.


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading