Alert! Mulai Susah Cari RS untuk Pasien Covid di Kota Bandung

News - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
11 December 2020 19:26
Doctor Giovanni Passeri, top left, with his assistant doctor Mariaconcetta Terracina, has 82-year-old patient Mario read his note about his medical conditions during a routine examination as part of a night shift in his ward in the COVID-19 section of the Maggiore Hospital in Parma, northern Italy Wednesday, April 8, 2020. Mario has been under oxygen CPAP (continuous positive air pressure) headgear ventilation and he could only communicate in writing because the hissing sound of the oxygen made it difficult for him to hear the doctor's voice. Mario's health conditions have been worsening since after his admission on March 28. He died in the evening of April 14. (AP Photo/Domenico Stinellis)

Jakarta, CNBC Indonesia- Penambahan kasus positif Covid-19 di Jawa Barat menjadi semakin melonjak belakangan ini, dan membuat pasien yang harus menjalani perawatan dan isolasi mandiri semakin banyak. Tidak terkecuali Kota Bandung yang juga menunjukan penambahan kasus yang cukup tinggi akhir-akhir ini.

Ketua Sub-Bidang Kesehatan Bidang Koordinasi Relawan Satgas Covid-19 dr. Jossep F William yang saat ini bertugas di Bandung, Jawa Barat mengatakan tingginya kenaikan kasus di ibu kota juga dibarengi dengan persiapan rumah sakit darurat dan perekrutan relawan medis. Saat ini menurutnya cukup susah mencari tempat tidur kosong untuk pasien Covid-19 di Rumah sakit di kota tersebut karena tingginya kasus aktif.

"RS yang ada di kota Bandung bisa dibilang penuh, susah mencari tempat kosong untuk isolasi Covid-19. Ini cukup mengkhawatirkan dan kita sedang melakukan PSBB mikro, banyak jalan-jalan yang ditutup. Ke depannya diharapkan tidak terlalu tinggi penularan yang terjadi, yang penting bukan penutupan jalan tapi penerapan protokol kesehatan yang disiplin," kata Jossep, Jumat (11/12/2020).


Dia pun mengharapkan kegiatan kumpul-kumpul yang dilakukan oleh masyarakat bisa berkurang sehingga dapat mencegah penularan. Jossep mengatakan kendala terberat penanganan Covid-19 di Bandung selain longgarnya protokol kesehatan, ada sebagian masyarakat yang tidak mempercayai adanya Covid-19 dan tidak mengerti bahaya virus ini.

"Oktober kemarin kami baru melakukan pelatihan untuk 3.000 relawan untuk perubahan perilaku. jadi sekarang ini kita sedang berusaha menyebarkan relawan ke titik-titik masyarakat untuk melakukan edukasi, sosialisasi dan melakukan protokl kesehatan. Kalau tidak, semua usaha kita akan berat dan tidak akan ada hasil signifikan karena jumlah korban akan berjatuhan," ujarnya .

Serupa di tempat lainnya, klaster yang terbanyak di Bandung adalah klaster keluarga. Untuk itu Satgas menggerakan agar masyarakat lebih peduli pada keluarga mereka melalui penerapan protokol kesehatan. Kota Bandung juga sudah memilki program pekerja sosial untuk menghilangkan stima yang muncul di masyarakat agar penyintas dan tenaga medis yang menangani Covid-19 tidak ditolak di masyarakat.

"Saat ini ada sekitar 400 orang dan sedang bekerja semua, mudah-mudahan dengan program yang ada kita bs membantu Pemda," katanya.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito, menegaskan pengendalian Covid-19 tidak akan efektif juga hanya mengandalkan satu cara. Menurutnya, harus dilakukan serangkaian upaya lain untuk menutupi kekurangan dan saling melengkapi.

"Misalnya protokol 3M yang hanya satu aspek, dan 3T yang satu upaya saja, akan menghasilkan pengendalian Covid-19 yang kurang efektif. Langkah vaksinasi harus tetap diikuti kedisiplinan menjalan protokol kesehatan," kata dia.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading