Perang Dagang Makin Panas, China Setop Impor Daging Australia

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
07 December 2020 19:48
Daging sapi yang diimpor dari AS terlihat di Wolfgang's, sebuah rumah steak kelas atas di distrik Sanlitun, Beijing Timur, China, 6 April 2018. Sepotong daging sapi keseluruhan 15 kg dari Amerika Serikat sekitar 20 persen lebih mahal daripada yang di Australia. mitra, kata Daniel Sui, wakil general manager di Wolfgang's.

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang dagang antara China dan Australia kembali memanas, dan tambah korban. Kali ini yang jadi korban adalah sektor daging Australia. Pada Senin (7/12/2020), China mengatakan mereka menangguhkan impor daging sapi dari perusahaan Australia, Meramist Pty Ltd, menjadi pemasok daging sapi keenam yang menghadapi penangguhan dari China.

Menurut Administrasi Umum Kepabeanan China dalam pemberitahuan di situsnya, tanpa memberikan alasan, mengatakan China berhenti menerima aplikasi dan pendaftaran untuk impor daging sapi dari pabrik Meramist mulai 7 Desember 2020.

China sendiri telah melarang impor dari lima pemasok daging Australia lainnya sepanjang tahun 2020, dengan alasan yang mencakup masalah pelabelan dan sertifikat kesehatan.


Pada Mei, China melarang impor dari empat pengolah daging terbesar di Australia dengan alasan masalah pelabelan dan sertifikat kesehatan. Pada Agustus, China menghentikan impor dari pabrik kelima.

China, yang merupakan mitra dagang terbesar Australia, telah mengancam pembalasan ekonomi sejak Canberra menyerukan penyelidikan atas pandemi Covid-19, serta menangguhkan beberapa impor kayu dan daging.

Sementara akhir November lalu, Pemerintah China mengatakan akan memberlakukan tindakan anti-dumping pada anggur Australia. Kementerian Perdagangan China menegaskan jika importir anggur Australia harus membayar deposit 107,1% hingga 212,1% mulai Sabtu (28/11/2020), sebagaimana dilaporkan AFP.

Selain itu, Kementerian Perdagangan mengatakan akan mengambil tindakan sementara sebagai tanggapan atas "kerugian substantif yang disebabkan oleh industri anggur dalam negeri yang relevan".

Ekspor anggur ke China mencapai rekor AU$ 1,3 miliar atau setara Rp 13,5 triliun (asumsi Rp 10.380/AU$) tahun 2019 lalu, menurut data pemerintah Australia. Ini menjadikannya pasar terbesar berdasarkan nilai produk.

Saham Treasury Wine Estates Limited, yang memiliki merek populer Penfolds, tenggelam lebih dari 11% karena berita.

Hubungan antara Canberra dan Beijing kini mencapai titik terburuk dalam beberapa bulan terakhir. Ini membuat para menteri pemerintah Australia tidak dapat membujuk rekan-rekan China untuk bahkan menerima panggilan telepon mereka.

Keretakan tersebut telah membuat eksportir Australia ditekan China dengan sejumlah blokir perdagangan. China melarang impor pertanian termasuk daging sapi, jelai dan kayu hingga komoditas tambang batu bara.

Terakhir, ribut kedua negara mempengaruhi proyek gas alam cair (LNG) perusahaan Woodside Petroleum. Perusahaan menunda negosiasi penjualan saham di ladang gas ke perusahaan China.


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading