Waw, Gak Cuma Ganti LPG, Batu Bara Juga Bisa Diolah Jadi BBM

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
01 December 2020 11:57
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah menargetkan produksi minyak sebesar 1 juta barel per hari (bph) pada 2030 mendatang. Namun bila produksi minyak bumi masih belum mencukupi, ternyata ada alternatif yang bisa dilakukan yakni dengan menggunakan batu bara.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengungkapkan hal tersebut saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI, Senin (30/11/2020).

"Alternatif untuk mendukung 1 juta BOPD (barel per hari) lifting minyak, kalau migas tidak sampai nanti memproduksi 1 juta BOPD-nya, opsi lainnya adalah bagaimana kalau kita misalnya sekelas minyak bumi, sekelas crude, tapi sumbernya itu dari batu bara," paparnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Komisi VII DPR RI, Senin (30/11/2020).


Menurutnya ini bisa dilakukan dengan cara batu bara mulanya dicairkan terlebih dahulu, kemudian dibawa ke kilang. Menurutnya, ini bisa dilakukan karena yang dibutuhkan kilang adalah bahan baku cair untuk kemudian dikonversi menjadi bahan bakar minyak (BBM).

"Jadi, kita cairkan batu bara, kemudian kita bawa ke refinery minyak. Kalau refinery tahunya sudah cair, di situ bisa dikonversi nanti jadi BBM," paparnya.

Dia menambahkan, "Ini sedang dilakukan kegiatan-kegiatan dan sebenarnya secara komersial ini sudah berjalan."

Sebelumnya, Hadi Ismoyo, Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), mengatakan dilihat dari sisi cadangan, target produksi minyak 1 juta bph bisa saja dicapai, namun sayangnya Indonesia termasuk negara yang rumit di dalam berbisnis, baik di sektor migas dan non migas.

Menurutnya, ada lima pilar yang harus digenjot untuk mendongkrak produksi ke 1 juta bph, di antaranya program pengeboran sumur (well work program), optimasi permukaan (surface optimization), percepatan rencana pengembangan lapangan marginal (speed up POD marginal field), Enhanced Oil Recovery (EOR), dan eksplorasi.

"Lima pilar ini adalah tugas Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), tapi tanpa dukungan pemerintah tidak bisa mencapai itu (1 juta bph). Kuncinya adalah masif dan agresif," ungkapnya dalam acara diskusi 'Road to 1 Million BOPD and 12 BSCFD Gas in 2030' secara daring, Jumat (20/11/2020).

Kemudian, untuk kegiatan EOR dia meminta agar bisa difokuskan pada Blok Rokan. Daripada berbicara di banyak lapangan yang belum tentu ekonomis, menurutnya Blok Rokan sangat prospektif untuk digencarkan program EOR. Potensi minyak di Blok Rokan menurutnya bisa mencapai 8,5 miliar. Jika 10% saja diambil, sudah mencapai 850 juta barel.

"Daripada ngomong di banyak lapangan, EOR difokuskan di Rokan saja. Saya optimis, meski banyak yang mengatakan (target 1 juta bph) ini impossible (mustahil), tapi saya instruksikan untuk support ini," paparnya.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading