Tips Simple Cara Memilih Masker Kain yang Baik

News - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
22 November 2020 17:03
Perajin memproduksi masker batik di Sentra Kerajinan Batik Tradisiku, Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (2/10/2020). Pemerintah tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Penetapan tersebut berlandaskan keputusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menetapkan batik menjadi warisan budaya dunia dari Indonesia. Galeri Batik ini merupakan salah satu pusat di mana pengunjung dapat melihat dan memesan batik yang desainnya amat kental dengan nuansa Kota Bogor. Biasanya wisatawan yang hadir ke Bogor bisa melihat dan mengunjungi Galeri Batik ini. Karena adanya aturan PSBB  membuat turis asing tidak bisa datang. Ragam desainnya pun rupa-rupa mulai dari motif hujan gerimis, kujang, Kebun Raya, Istana Bogor, dan Batu Tulis. Untuk saat ini perajin sedang garap masker dengan motif batik standar SNI. Seperti diketahui Badan Standardisasi Nasional (BSN) mengeluarkan spesifikasi masker kain ber-SNI yang terbagi menjadi tiga tipe berdasarkan penggunaannya, antara lain tipe A untuk penggunaan umum, tipe B untuk penggunaan filtrasi bakteri, dan tipe C untuk penggunaan filtrasi partikel. (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki Foto: Industri Galeri Batik Khas Bogor (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki

Jakarta, CNBC Indonesia- The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat mengatakan masker kain bisa menjadi pilihan yang baik saat ini.

Melansir CNN Internasional, Minggu (22/11/2020) CDC menyarankan untuk mencari masker kain dengan tenunan ketat yang terbuat dari 100% katun. Adapun cara memastikan bahwa jenis kain yang digunakan sudah tepat adalah dengan menggunakan uji cahaya.

Jika dengan mudah melihat garis besar serat saat mengangkat masker ke arah cahaya, kemungkinan masker tersebut tidak akan efektif.


Masker kain yang baik adalah yang memiliki lapisan sebanyak mungkin tanpa membuat si pemakai untuk menghilangkan kemampuan bernapas. Jika masker kain membuat pemakainya tidak bisa bernapas, tak ada gunanya menggunakan masker tersebut.

CDC juga mengatakan, masker dengan dua dan tiga lapisan cukup efektif untuk mencegah penularan virus.

"Masker dengan beberapa lapis kain dengan jumlah benang yang tebal telah menunjukkan kinerja yang unggul dibandingkan dengan satu lapis kain dengan jumlah benang yang lebih rendah. Masker kain dalam beberapa kasus menyaring hampir 50% partikel halus yang berukuran kurang dari 1 mikron," kata CDC.

Kabar baiknya, penelitian telah mendeteksi SARS‐CoV‐2 pada aerosol antara 1 dan 4 mikron. Selain itu, penelitian telah menemukan bahwa masker kain berlapis-lapis dapat menghalangi antara 50% dan 80% tetesan dan partikel halus, dan membatasi penyebaran yang tidak tertangkap.

"Dalam beberapa penelitian yang dilakukan masker kain setara dengan masker bedah sebagai penghalang untuk pengendalian virus," pungkasnya.

CDC menegaskan jangan membeli masker N95 untuk penggunaan pribadi meskipun paling efektif 95% untuk menyaring semua partikel. Pasalnya, masker ini khusus digunakan untuk petugas medis dan petugas kesehatan lainnya.

Selain itu, masker N95 harus dipasang agar sesuai dengan kontur unik wajah setiap dokter atau perawat. Masyarakat dinilai tidak memiliki kepiawaian untuk memasang masker jenis ini.

Menanggapi ini, Asisten profesor kedokteran di divisi penyakit menular di Emory University di Atlanta, Dr. Marybeth Sexton menegaskan bahwa berhati-hatilah dengan banyak masker yang beredar, dimana dibuat serupa dengan masker N95.

"Beberapa dari masker N95 yang digunakan komunitas itu memiliki katup pernafasan di dalamnya," katanya.

"Mereka memang membuatnya lebih nyaman untuk dipakai, tetapi tidak melindungi orang-orang di sekitar Anda. Ini sebenarnya dapat memperburuk keadaan karena itu memusatkan nafas Anda ke dalam katup itu. Jadi kami sangat menyarankan agar orang tidak memakai masker yang memiliki katup pernafasan," tegasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading