Kok Bisa Trump yang Super Power Kalah Telak oleh Joe Biden?

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
08 November 2020 12:21
People gather in Black Lives Matter Plaza to celebrate President-elect Joe Biden's win over President Donald Trump to become the 46th president of the United States, Saturday, Nov. 7, 2020, in Washington. His victory came after more than three days of uncertainty as election officials sorted through a surge of mail-in votes that delayed the processing of some ballots. (AP Photo/Jacquelyn Martin)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemilihan Presiden Amerika Serikat (Pilpres AS) kini telah usai. Pasangan Joseph Robinette Biden Jr. dan Kamala Devi Harris dari Partai Demokrat memenangkan Pilpres berdasarkan hasil voting dan suara elektoral.

Keduanya mengalahkan petahana Donald John Trump dan Michael Richard Pence dari Partai Republik dengan 290 versus 214 suara elektoral pada Minggu (8/11/2020) pagi. Biden juga mendapatkan total voting 75.193.022 (50.6%) dengan Trump 70.804.968 (47.7%) berdasarkan data The Associated Press.

Lalu bagaimana akhirnya Biden dapat mengalahkan Trump dengan telak dalam pilpres kali ini?

Kepemimpinan Biden berbanding terbalik dengan Trump. Selama 4 tahun pemimpin AS, Trump lebih dianggap tidak becus dalam pekerjaannya di Gedung Putih. Dia dianggap memecah belah persatuan dengan memimpin pemerintahan yang kacau.



Sementara, dalam kampanyenya, Biden berjanji memulihkan politik kembali normal dan semangat persatuan nasional untuk menghadapi krisis ekonomi akibat pandemi virus corona (Covid-19) yang sudah menjangkiti lebih dari 10 juta orang, dan menewaskan 243.257 warga AS.

Biden juga menggandeng Harris, yang merupakan minoritas di AS. Harris menorehkan sejarah, menjadi perempuan keturunan Asia-Afrika pertama yang menjabat sebagai Wakil Presiden AS. Harris menjadi ikon bagi minoritas di AS yang seringkali tidak mendapatkan hak mereka sebagai warga negara AS.

Pendekatan Biden yang jauh berbeda dengan Trump dan masyarakat yang haus akan perubahan inilah yang membuat sebagian besar lebih memilih Biden menduduki kursi presiden AS ke-46.



Inti dari pencalonan Biden adalah profesionalisme dalam bekerja, yang seringkali dicemooh dalam politik presidensial. Biden dapat dikatakan merupakan seorang politisi sesungguhnya, karena lebih senang negosiasi politik yang mengedepankan pluralisme. Hal ini yang membedakannya dan Trump.

Politik Biden bukanlah tentang apa yang diyakini, tetapi tentang menemukan titik temu dari apa yang ia yakini, apa yang ia yakini dipercaya oleh negara, dan apa yang dipercaya oleh orang-orang yang dia butuhkan untuk memenangkannya. Hal inilah yang membuat Biden menjadi sosok yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Dalam pidato kemenangannya, Biden mengklaim kursi kepresidenan dan menyerukan kepada negara tersebut untuk bersatu kembali setelah mengalahkan politik yang beracun.

"Biarlah era setanisasi yang suram di Amerika ini mulai berakhir di sini dan sekarang," katanya di Kota Wilmington, Delaware, dikutip dari New York Times.




Biden mengatakan, sempat berbicara langsung kepada pendukung Trump dan mengatakan dia mengakui kekecewaan mereka. "Saya sendiri telah kalah beberapa kali," katanya, mengenang kegagalannya di masa lalu untuk memenangkan kursi kepresidenan.

"Sekarang mari kita saling memberi kesempatan," lanjutnya.

Kemenangan Biden, yang terjadi 48 tahun setelah ia pertama kali terpilih menjadi Senat AS, memicu perayaan yang meriah di beberapa kota-kota yang mendukung Partai Demokrat. Di Washington, banyak masyarakat yang merayakan kemenangan Biden di dekat Gedung Putih.

Di sisi lain, Trump tidak terima dengan kekalahannya. Ia sempat bersikeras jika 'pemilihan ini masih jauh dari selesai' dan ia bersumpah akan 'mulai menuntut kasus kami di pengadilan', tanpa memberikan rincian lebih lanjut bagaimana ia akan menuntut.


[Gambas:Video CNBC]

(wed/wed)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading