Pak Anies, Pengusaha Kuliner Mohon PSBB Tak Diperpanjang Lagi

News - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
06 October 2020 17:53
Petugas PPSU Kelurahan Bukit Duri membuat murL bertemakan COVID-19 untuk meningkatkan kepatuhan masyarakat akan protokol kesehatan, karen kasus COVID-19 nasional terus meningkat, Selasa (8/9/2020). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jumlah kasus positif virus corina (Covid-19) di Indonesia terus menambah di angka psikologis 200.000orang per hari ini, ditengah kekhawatiran runah sakit yang makin penuh. 

Berdasarkan data Kementrian Kesehatan (Kemenkes) terdapat 3.046 kasus baru Covid-19 pada Selasa (8/9/20) sehingga totalnya menembus 200.035 orang. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia- Pengusaha kuliner meminta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tidak lagi memperpanjang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ketat. Pasalnya, strategi apapun yang dilakukan pengusaha bisnis kuline di masa ini tetap kesulitan jika PSBB ketat diberlakukan lagi.

"PSBB jangan ditambah lagi dan diperpanjang lagi. Kami sudah sangat berat dengan PSBB yang sekarang, jika diperpanjang maka bisa membunuh semua pengusaha," kata Pengusaha Kuliner Christoper Sebastian, dalam talkshow Upaya Meningkatkan Pemasukan Sektor UMKM selama Masa Pandemi Covid-19, Selasa (06/10/2020).

Sejak masa pandemi Covid-19 penjualan usahanya sangat terpukul dengan omset turun hampir 70%, dari tiga brand yang dimiliki. Dia menyatakan saat ini lebih mendorong ke bisnis penjualan makanan secara online karena tidak diperbolehkan makan ditempat.


Efek PSBB yang sekarang menurutnya berat dan sangat memukul industri kuliner. Lebih berat lagi jika harus operasional diberhentikan sama sekali, akibatnya tidak ada pemasukan. Pasalnya meski mendorong penjualan di online, masih belum bisa menutup biaya operasional usahanya.

Dalam kesempatan yang sama Founder & CEO Sour Sally Group Donny Pramono mengharapkan pemerintah dapat mengkaji ulang kebijakan PSBB. Menurutnya setelah tujuh bulan masa pandemi Covid-19, dengan PSBB yang ada malahan tidak efektif menekan penyebaran.

"Mungkin bisa eksplorasi cara yang lain untuk supaya bisa menekan kurva di satu sisi, tapi ekonomi tetap bisa berjalan. PSBB ini kalau saya kasi input, PSBB mungkin lebih spesifik di tempat risiko penyebaran," kata Donny.

Dengan begitu bagi daerah yang risiko penularannya rendah bisa sedikit dilonggarkan agar ekonomi bisa berputar. Menurutnya ini krisis paling menantang yang pernah dihadapi, bahkan saat ini Sour Sally Group hanya membuka 50% dari total franchise yang dimilikinya atau sekitar 100-120 outlet.

Sour Sally Group memiliki 124 outlet Gulu-Gulu, Sour Sally 66 Outlet, Fi:ka 36 outlet.

"Itu pun dalam operasionalnya margin keuntungan tidak ada, kami buka hanya untuk membayar gaji karyawan. Di outlet kami harus tetap survive dan harus melalui semua keadaan dan masa genting kaya gini," kata dia.

Donny juga mengingatkan kepada kalangan pengusaha kuliner untuk tetap kreatif dan mencari ide-ide baru dalam menjalankan usahanya. Yang terpenting dalam menjalankan usaha saat ini adalah tetap menjaga protokol kesehatan sesuai dengan anjuran yang ada.

Perusahaan menurutnya menerapkan peraturan dan sanksi yang jelas, agar karyawan yang masih harus bekerja di kantor mematuhi protokol kesehatan terutama #pakaimasker.

"Yang pasti tetap disiplin untuk selalu menjaga kesehatan, #jagajarak, dan disiplin memakai masker jangan sampai terlewat," katanya.

Christoper juga mengatakan meski situasinya berat, kesehatan tetap menjadi hal yang utama. Untuk itu menurutnya penting untuk disiplin protokol kesehatan dan teruslah bergerak seperti berolahraga dan berinovasi di masa ini. Bahkan meski tidak ada makan di tempat untuk sementara waktu, dia tetap menambahkan tempat cuci tangan agar pengunjung bisa segera cuci tangan setelah masuk restoran.

"Jadi begitu datang kami wajibkan harus cuci tangan, dan pengaturan sesuai protokol kesehatan yakni jaga jarak dan pembatasan kapasitas. Tetap harus disiplin menjalankan protokol kesehatan, dan berinovasi untuk membuat ekonomi kita bisa berjalan lagi," ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading