Bakal Diblokir AS, TikTok Serang Balik Trump!

News - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
20 September 2020 10:10
FILE - This Feb. 25, 2020, photo shows the icon for TikTok taken in New York. India is banning 59 apps with Chinese links, saying their activities endanger the country’s sovereignty, defense and security. India’s decision comes as its troops are in a tense standoff with Chinese soldiers in eastern Ladakh in the Himalayas that started last month. India lost 20 soldiers in a June 15 clash. The government says the banned apps include TikTok, UC Browser, WeChat and Bigo Live, as well as the e-commerce platforms Club Factory and Shein, that are used in mobile and non-mobile devices connected to the Internet.(AP Photo, File)

Jakarta, CNBC Indonesia - Manajemen TikTok telah meminta institusi hukum Amerika Serikat (AS) untuk menggugat administrasi Presiden Donald Trump yang memberlakukan larangan untuk mengunduh aplikasi TikTok.

Permintaan tersebut terungkap dalam sebuah dokumen pengadilan yang diajukan pada Jumat lalu, seperti dikutip dari Reuters, Minggu (20/09/2020).

TikTok dan induk perusahannya, ByteDance Ltd, mengajukan gugatan ke pengadilan Federal Washington dengan menentang langkah larangan yang diberlakukan Presiden Trump.


Departemen Perdagangan AS pada akhir pekan ini memang mengumumkan adanya larangan pemerintahan Trump untuk mengunduh dua aplikasi buatan perusahaan China yaitu WeChat dan TikTok mulai hari ini, Minggu (20/09/2020).

Larangan tersebut dianggap sebagai alasan politik, menurut TikTok dan ByteDance dalam tuduhan gugatan mereka ke pengadilan. TikTok juga mengatakan, larangan tersebut telah melanggar hak amandemen perusahaan.

Presiden Trump, yang telah terlibat dalam sengketa perang dagang dengan China telah mengeluarkan perintah eksekutif pad 6 Agustus lalu untuk melarang transaksi apapun dengan WeChat dan TikTok.

ByteDance dan TikTok saat ini tengah berupaya untuk berdiskusi dan membatalkan sementara larangan dan perintah yang disuarakan Trump, menurut berkas tuntutan tersebut.

Hingga berita ini dipublikasikan Reuters, Gedung Putih belum memberikan komentar terkait hal ini.

Adapun TikTok, yang memiliki lebih dari 100 juta pengguna di Amerika Serikat mengatakan larangan tersebut akan secara langsung menghancurkan bisnis perusahaan di negeri Paman Sam secara permanen.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading