Ada Tren Harga Pangan Dunia Terus Naik, Tanda-Tanda Apa Ini!

News - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
08 September 2020 16:43
In this Monday, April 11, 2016 photo, An Egyptian farmer carries his daughter, as a man, left, working for the Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) makes his way, on a land in Kafr Hamouda village, in Zagazig, 63 miles (100 kilometers) northeast of Cairo, Egypt. Farmers begin to use a small, relatively cheap plow allowing them to nearly double the yields of their wheat. The FAO, which is helping to distribute the plows, hopes the government will encourage the creation of small- and medium-sized businesses to build more. (AP Photo/Amr Nabil)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga-harga pangan dunia di bulan Agustus masih lanjut mengalami penguatan. Kenaikan harga dipicu oleh terkereknya permintaan dan masalah pasokan. Pelemahan dolar juga tak luput mendongkrak harga pangan internasional.

Sebagai mata uang global, pelemahan dolar AS banyak membawa berkah bagi harga-harga komoditas tak terkecuali pangan. Indeks dolar memulai tren koreksinya sejak Mei. Dolar terus melemah hingga bulan Agustus. Posisi indeks dolar berada di level terendah dalam lebih dari dua tahun terakhir.


Menguatnya harga pangan internasional tercermin dari FAO Food Price Index bulan Agustus yang naik 1,9 poin (+2,1% month on month/mom) menjadi 96,1. Indeks pangan global versi FAO ini juga naik 2,1 poin (+2,2% year on year/yoy) dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu. 

Posisi indeks harga pangan global Agustus menjadi level tertinggi sejak Maret tahun ini dan menandai kenaikan selama tiga bulan beruntun sejak periode Juni.

Semua komoditas pangan mengalami kenaikan di bulan Agustus. Kenaikan tertinggi dicatatkan oleh kelompok komoditas pangan berupa gula dan minyak nabati. Indeks harga minyak nabati global bertambah 5,5 poin menjadi 98,7. Sementara indeks harga gula naik 5,1 poin menjadi 81,1 bulan lalu.

Harga minyak sawit mengalami kenaikan akibat impor dari negara-negara konsumen yang membaik juga disertai dengan penurunan produksi akibat faktor kekeringan yang sempat melanda negara produsen seperti Indonesia dan Malaysia. Alhasil stoknya berkurang.

Untuk harga minyak kedelai sendiri naik akibat adanya antisipasi penyerapan untuk pembuatan biodiesel di AS. Harga minyak biji bunga matahari juga naik karena impor China yang tetap tinggi. Di sisi lain, pengetatan pasokan membuat harga minyak rapeseed terus meningkat.

Beralih ke harga gula internasional, kenaikan harga bulanan yang terjadi dipicu oleh penurunan produksi di Uni Eropa dan juga Thailand sebagai eksportir terbesar di dunia akibat cuaca yang tak mendukung.

Penurunan produksi ini dibarengi juga dengan impor dari China yang tetap kuat seiring dengan membaiknya konsumsi dan ekonomi Negeri Tirai Bambu pasca lockdown Januari lalu.

Meski tak setinggi kenaikan harga gula dan minyak sawit, harga sereal juga terangkat di bulan Agustus. Beberapa sereal yang mencatatkan kenaikan harga tertinggi adalah sorgum, barley, jagung dan padi.

Kenaikan harga barley dan sorgum tak terlepas dari kenaikan impor dari China. Sementara untuk kenaikan harga jagung dan beras lebih disebabkan oleh pengetatan pasokan. 

Untuk komoditas pangan berupa susu dan daging internasional, harganya naik tipis cenderung tidak terlalu banyak berubah sebagai akibat dari permintaan yang masih lemah. Kenaikan harga pangan ini perlu diwaspadai, apalagi sebelumnya FAO mengingatkan negara-negara untuk bersiap terhadap potensi krisis pangan di kala pandemi covid-19.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading