Tetap Waspada! Bukan Cuma Kantor, Kini Ada Klaster Keluarga

News - Yuni Astuti, CNBC Indonesia
08 September 2020 09:03
A health worker takes the body temperatures of an immigration officer during a mass testing for COVID-19 at the immigration headquarters in Jakarta, Indonesia, Monday, Aug. 24, 2020. (AP Photo/Tatan Syuflana) Foto: Wabah Virus Corona di Indonesia (AP/Tatan Syuflana)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden RI Joko Widodo dalam Sidang Kabinet Paripurna bertema Penanganan Kesehatan dan Pemulihan Ekonomi untuk Penguatan Reformasi Tahun 2021 di Istana Negara, Jakarta, Senin (7/9/2020) mengingatkan kemunculan klaster-klaster baru dalam penularan virus corona baru penyebab Covid-19.

"Hati-hati yang namanya klaster kantor, yang kedua klaster keluarga. Yang terakhir klaster pilkada hati-hati agar ini selalu diingatkan," ujar Jokowi.

Terkait klaster keluarga, dia mengingatkan agar kita jangan merasa aman sesampainya di rumah. Sebab menurutnya, Justru di situlah kita harus hati-hati.

"Dalam perjalanan masuk kantor kita juga sudah merasa aman sehingga kita juga lupa di dalam kantor protokol kesehatan," tegasnya.

Sekjen Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Paru Indonesia, Dr Erlang Samoedro SpP(K) juga mengatakan hal yang sama. Menurutnya, klaster keluarga adalah kondisi dimana di dalam sebuah keluarga ada 1 kasus. Bisa dimulai dari siapa saja anggota keluarga yang bepergian atau bekerja di luar rumah.

"Ini akibatnya sudah dibebaskan, beraktivitas seperti biasa, tak sadar terinfeksi oleh lingkungan sekitar, ini yang jadi masalah," ujarnya.

Klaster keluarga ini menurutnya berbahaya. Sebab di dalam sebuah keluarga, rumah tersebut bisa saja ada orang-orang yang rentan seperti orang tua hingga anak-anak.

"Ada beberapa kelompok rentan tertular. Mortalitas lebih tinggi, misal orang tua kemudian yang punya penyakit komorbid, paru, asma, jantung, diabet, itu sangat rentan," ujarnya.

Inisiator @pandemitalks, Firdza Radiany juga menyoroti hal ini. Dia mengatakan bahwa klaster keluarga mengalami lonjakan signifikan. Beberapa contoh kasus tertinggi adalah di Bogor ada 48 klaster keluarga dan menginfeksi 189 orang.

"Paling parah bekasi ada 155 kasus dengan 437 orang yang terinfeksi," ujarnya.

Kondisi ini diperparah dengan kultur masyarakat Indonesia yang suka berkumpul dan masih gemar piknik ke lokasi zona merah. Menurutnya, berdasarkan studi, penyebab kasus utama di Bogor adalah klaster keluarga.

"Data dinkes Bogor, mengkhawatirkan 20% kluster keluarga di Bogor ini OTG, orang tersebut merasa sehat tapi membawa virus. Bahkan hanya 14% warga bogor yang percaya covid-19 ada," tuturnya.

Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19, Prof. Dr. dr. Akmal Taher Sp. U (K) menanggapi hal ini. Dia menyebut, bagi orang lanjut usia memang rentan apalagi yang memiliki penyakit penyerta.

"Ada orang tua harus menjaga jika terpaksa keluarga rumah. Kedua menyangkut anak-anak, belum ada kepastian, tapi anak-anak penular juga, walau seperti tampaknya tak berat sakitnya," pungkasnya.



[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading