Berkat The Fed, Peluang Bunga Acuan BI Turun Makin Besar

News - Ags, CNBC Indonesia
01 September 2020 20:05
Federal Reserve Chair Jerome Powell removes his glasses as he listens to a question during a news conference after the Federal Open Market Committee meeting, Wednesday, Dec. 11, 2019, in Washington. The Federal Reserve is leaving its benchmark interest rate alone and signaling that it expects to keep low rates unchanged through next year. (AP Photo/Jacquelyn Martin) Foto: Gubernur bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve, Jerome Powell (AP Photo/Jacquelyn Martin)

Jakarta, CNBC Indonesia--Bank sentral Amerika Serikat (AS) telah mengumumkan akan memperpanjang era suku bunga rendahnya, tak peduli inflasi meninggi maupun angka pengangguran turun. Berapa lama dan apa imbasnya bagi moneter kita?

Dua pekan lalu, The Fed yang telah memangkas suku bunga acuan mendekati nol dan melakukan pembelian aset di pasar sekunder dan primer untuk menopang perekonomian, menetapkan kerangka kebijakan inflasi yang memastikan suku bunga rendah bertahan lama.

Dalam pidatonya secara virtual, bank sentral terkuat AS itu mengindikasikan bahwa inflasi di atas 2% akan ditolerir "untuk beberapa lama", dalam arti tak otomatis diikuti kenaikan suku bunga acuan. Wall Street pun diliputi pertanyaan mengenai seberapa lama sih "beberapa lama" itu? Akankah bakal seperti era Depresi Akbar ketika suku bunga nyaris nol bertahan 7 tahun?


"Jawabannya, kita tidak tahu. Tidak juga The Fed. Mereka hanya mengetahui pandangannya mengarah ke sana,"tutur Kepala Perencana Investas iPrudential Financial Quincy Krosby, sebagaimana dikutip CNBC International.

Bank investasi global Goldman Sachs memperkirakan kebijakan "tinggal landas" The Fed, alias saat suku bunga acuan didongkrak, akan terjadi pada awal tahun 2025, bergantung pada metrik yang dipakai The Fed. Pertanyaan yang muncul bakal seputar sejauh mana The Fed mengkalkulasi "rerata inflasi" yang dipakai untuk meloloskan kebijakan normalisasi.

Sementara itu, perencana investasi saham Morgan Stanley Michael Wilson menilai upaya The Fed mempertahankan suku bunga jangka pendek akan berujung pada kenaikan suku bunga jangka panjang. Hal ini yang belum diperhitungkan oleh pasar.

"Suku bunga lebih tinggi dalam jangka panjang adalah hal yang bagus karena mereka menolong The Fed mencapai target inflasi yang lebih tinggi dan berkelanjutan melalui sistem perbankan," ujarnya sebagaimana dikutip CNBC International.

 

Ruang Penurunan BI Reverse Repo Rate Terbuka

Bagi Indonesia, suku bunga rendah di AS membuka peluang bagi bank sentral seluruh dunia untuk memangkas suku bunga acuan mereka, dengan risiko yang lebih rendah terhadap mata uangnya.

Betul bahwa pemangkasan suku bunga akan membuat aset pendapatan tetap, utamanya obligasi pemerintah, menjadi "kurang menarik" bagi investor global sehingga bisa memicu aksi jual dan menekan rupiah. Namun, itu terjadi tatkala suku bunga rendah di AS dibarengi oleh inflasi yang rendah.

Di kondisi ke depan ketika Fed Funds Rate yang nyaris nol berhadapan dengan inflasi yang mencapai 2%, pemodal AS pun bakal gelisah memegang obligasi pemerintah AS, yang saat ini imbal hasil (yield) tertingginya saja di level 1,5%. Itupun untuk obligasi bertenor terpanjang, yakni 30 tahun.

Mereka bakal "dipaksa" memutar dananya ke sektor riil, atau aset lain yang membagikan keuntungan lebih tinggi dengan keamanan yang cukup tinggi. Selain emas, obligasi pemerintah negara emerging market menjadi pilihan karena rentang (spread) suku bunganya yang masih jauh.

Saat ini, suku bunga acuan kita yakni Bank Indonesia (BI) 7-Day Reverse Repo Rate berada di level 4% dan obligasi tenor 10 tahun (yang menjadi acuan harga di pasar) membagikan imbal hasil 6,9%, masih membagikan keuntungan jauh lebih tinggi dari obligasi pemerintah AS.

Hal ini memperlonggar ruang bagi BI untuk memangkas suku bunga acuan, terutama di tengah virus deflasi yang telah menjangkiti perekonomian dalam dua bulan terakhir. Deflasi Agustus tercatat 0,01% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/MtM). Di sisi lain, inflasi inti sebesar 2,03% (year on year/yoy). Artinya, daya beli masyarakat terganggu.

Untuk itu, perlu ada pertolongan dari otoritas moneter berupa pemangkasan suku bunga yang bisa membantu mereka mendapatkan daya beli ekstra. Ketika suku bunga kredit turun, masyarakat diharapkan bisa membeli barang tahan lama yang pada akhirnya mendongkrak konsumsi nasional dan menggulirkan Produk Domestik Bruto (PDB) kita.

Ketika investor global tak betah pegang obligasi pemerintah AS 5 tahun ke depan-mengasumsikan  prediksi Morgan Stanley soal "era tinggal landas 2025"itu benar-maka tak perlu ada kekhawatiran rupiah akan tertekan akibat kebijakan BI yang berefek signifikan terhadap sektor riil tersebut.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

'Hantu' Tapering Off The Fed Ancam RI, Apa Antisipasi BI?


(ags/ags)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading