Seram, Banyak 'Zombie Companies' di RI Akibat Covid-19

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
01 September 2020 10:40
Menteri Keuangan periode 2013-2014, Chatib Basri. (CNBC Indonesia/Efrem Siregar)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Chatib Basri mengungkapkan wabah Covid-19 membuat putaran roda ekonomi mandek. Ekonomi disebut tidak bisa 100% pergerakannya, sehingga akan muncul 'Zombie Companies' atau perusahaan yang diibaratkan seperti mayat hidup.

"Daya beli yang lemah, perilaku kelas menengah atas yang berhati-hati karena kesehatan, perubahan perilaku [belanja online]. Protokol kesehatan membuat ekonomi tak bisa beroperasi 100% akibat skala ekonominya tak tercapai," papar Chatib seperti dikutip Selasa (1/9/2020).

"Jika ekonomi hanya beroperasi 50%, maka untuk banyak sektor break even point tak tercapai. Perusahaan bisa tetap survive selama masih bisa bayar biaya variable seperti gaji dan sebagainya, tapi tak untung. Perusahaan bisa jadi zombie companies," paparnya lebih jauh.

Chatib melakukan riset berdasarkan data dari Google dan Humdata.org. Google Mobility menunjukkan setelah pembukaan aktivitas, mobilitas masyarakat naik tajam. Namun, berangsur datar dan melambat.



Sejumlah aktivitas masyarakat sempat tumbuh tinggi pada Juni bertepatan dengan pembukaan ekonomi bertahap dan pelonggaran pembatasan sosial. Lalu, mulai turun pada Juli dan Agustus.

Pergerakan masyarakat ke kantor tumbuh 13 persen pada Juni. Kemudian, turun menjadi 1,4 persen pada Juli, bahkan minus 0,2 persen pada Agustus.

Sementara, Ekonom senior Faisal Basri meyakini ekonomi Indonesia akan pulih jika kurva kasus penularan Covid-19 bisa melandai atau turun.


M Chatib basri Foto: Detikcom/ Ari SaputraFoto: M Chatib basri Foto: Detikcom/ Ari Saputra



Saat ini, Indonesia masih mencatatkan kenaikan penambahan kasus Covid-19 setiap hari. Bahkan jumlah pasien setiap hari bertambah 2.000 - 3.000 pasien.

Per 31 Agustus 2020, terdapat tambahan kasus baru sebanyak 2.743 pasien. Dengan demikian, total pasien Covid-19 di Indonesia berjumlah 174.796 kasus. Sementara itu, jumlah pasien yang meninggal dunia akibat Covid-19 mencapai 7.417 orang pada Senin (31/8/2020).

Menurut Faisal, kunci untuk menggerakkan aktivitas ekonomi adalah dengan meningkatkan test Covid-19 ke seluruh masyarakat di Indonesia. Dia juga mengkhawatirkan, pemerintah saat ini tidak lagi peduli dengan penanganan Covid-19, dan lebih untuk mengutamakan pemulihan ekonomi nasional (PEN).

"Kunci untuk aktivitas ekonomi meningkat adalah dengan tes. Kita jauh lebih kecil dari negara tetangga [...] yang saya takut, respons pemerintah makin tidak peduli dengan Covid-19, tapi [lebih peduli] ke pemulihan ekonomi," kata Faisal saat melakukan rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Senin (31/8/2020).

Apalagi, menurut dia, di dalam Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2020 tentang Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), unsur kesehatan di dalamnya hanya satu, yakni Kementerian Kesehatan. Selebihnya ekonomi dan politik pertahanan.

Melihat struktur pada Komite Penangan Covid-19 dan PEN, terlihat Indonesia hanya lebih condong untuk memulihkan perekonomian saja.

Padahal menurut dia, apabila kasus penularan Covid-19 turun, maka otomatis pertumbuhan ekonomi akan naik. Oleh karena itu, menurut Faisal mustahil jika pemerintah ingin pertumbuhan ekonomi naik, di saat penularan kasus Covid-19 terus bertambah.

"Kita harus kendalikan penularan kasus dulu, baru ekonomi bisa naik. Kalau kasus sudah turun, otomatis pertumbuhan ekonomi tanpa disuruh pun akan naik," kata Faisal.
Maka tak heran, kata Faisal, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020 kemungkinan akan berada pada titik -3%.


[Gambas:Video CNBC]

(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading